JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengungkapkan dasar pertimbangan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah ibu kota.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakart, Isnawa Adji menjelaskan bahwa OMC dilakukan untuk mengantisipasi potensi hujan ekstrem di atas rata-rata yang dapat memicu berbagai dampak lanjutan, mulai dari banjir, pohon tumbang, hingga potensi longsor dan badai.
"Dasar pertimbangan BPBD adakan OMC adalah bagian dari mitigasi potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan ekstrim diatas rata-rata yang bisa timbulkan banjir, pohon tumbang, potensi longsor dan badai," ujar Isnawa kepada Poskota, Jumat, 16 Januari 2026.
Menurut Isnawa, hujan dengan intensitas tinggi tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berimbas langsung pada aktivitas masyarakat.
Kemudian potensi dampak yang akan terjadi antara lain kemacetan lalu lintas, terganggunya aktivitas ekonomi, hingga kerusakan infrastruktur seperti jalan, fasilitas umum, dan bangunan.
"Dampak ikutan selanjutnya seperti kemacetan, terganggunya aktivitas ekonomi, rusak nya infrastruktur dan lain-lain," ucap Isnawa.
Garam Disemai 400 Ton per Hari

Koordinasi pusat kegiatan OMC ini berada di Lanud Halim Perdanakusuma. Isnawa mengatakan teknis pelaksanaan bergantung hasil analisis antara BMKG, TNI AU, BNPB dan BPBD untuk penentuan jumlah bahan semai berupa garam.
Biasanya, penyemaian garam sebanyak 400 ton per hari dan dilakukan satu sampai tiga kali.
"Banyaknya garam yang disemai tergantung hasil analisa bersama BMKG, TNI AU, BNPB, BPBD karena kita ada posko di Bandara Lanud Halim Perdanakusuma," ucapnya.
"(Garam yang ditabur) bisa 200 sampai dengan 400 ton dan juga tergantung berapa sortie perhari bisa 1 sampai dengan 3 kali," sambungnya.
Isnawa menjelaskan pelaksanaan OMC ini didasari atas adanya imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), surat antisipasi bencana dari BNPB dan arahan dari Gubernur DKI Jakarta.
Kata Isnawa, BMKG juga telah merilis peringatan secara nasional terkait potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2026.
"Hal lain adanya imbauan tentang cuaca dari BMKG, surat antisipasi bencana dari BNPB dan arahan gubernur. BMKG juga telah menyampaikan rilis se-Indonesia terkait potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrim sampai akhir Februari 2026,” tutur Isnawa.
"BMKG sampaikan release se-Indonesia termasuk potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrim sampai dengan akhir Februari tahun 2026," ungkap Isnawa.
Sebagai tambahan informasi, pelaksanaan OMC ini banyak digunakan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengisian waduk, namun dalam perkembangannya juga terbukti efektif untuk memprematurkan cuaca.
Berdasarkan data sepanjang tahun 2024 dan 2025, OMC dinilai mampu meminimalkan potensi kerugian dan kerusakan infrastruktur daerah seperti jalan rusak, sekolah terdampak, sawah terendam, hingga terganggunya aktivitas ekonomi akibat kemacetan panjang yang dalam beberapa kasus bisa mencapai ratusan kilometer.
"Kemarin dapet info OMC di Kalimantan, Jateng, Jatim, Jabar, bisa minimalisir kerugian kerusakan infrastruktur daerah seperti jalan rusak, sekolah, sawah, sampai dengan aktifitas ekonomi seperti macet itu data sepanjang 2024 dan 2025," kata Isnawa.
Tahapan Pelaksanaan OMC

Secara teknis, pelaksanaan OMC dilakukan melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut ini:
- Analisis Kondisi Atmosfer
Sebelum operasi dilaksanakan, BMKG bersama BPBD, BNPB, dan TNI AU melakukan analisis meteorologis secara komprehensif. Analisis ini meliputi pemantauan awan hujan, arah dan kecepatan angin, kelembapan udara, tekanan atmosfer, hingga potensi pertumbuhan awan konvektif.
Dari hasil analisis tersebut ditentukan waktu, lokasi, serta strategi penyemaian awan yang paling efektif.
- Penentuan Target Awan
Tidak semua awan dapat disemai. OMC hanya dilakukan pada awan yang memiliki potensi hujan dan berada pada fase pertumbuhan yang sesuai.
Target awan biasanya berada di hulu wilayah rawan banjir atau diarahkan ke wilayah yang relatif aman seperti perairan terbuka, laut, atau kawasan hutan, sehingga hujan tidak terkonsentrasi di area padat penduduk.
- Penyemaian Bahan Semai
Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat milik TNI AU dengan membawa bahan semai, umumnya berupa garam (NaCl). Garam disemai ke dalam awan untuk mempercepat proses pembentukan butir hujan.
Tujuannya agar hujan turun lebih cepat, dengan intensitas lebih ringan, durasi lebih singkat, atau bergeser ke lokasi yang telah ditentukan.
- Pelaksanaan Sortie Penerbangan
Jumlah penerbangan (sortie) per hari bergantung pada hasil analisis cuaca dan dinamika atmosfer.
Dalam satu hari, sortie bisa dilakukan satu hingga tiga kali. Setiap sortie membawa bahan semai dalam jumlah tertentu, dengan total penggunaan garam dapat mencapai ratusan ton selama periode operasi.
- Pemantauan dan Evaluasi
Selama dan setelah pelaksanaan OMC, BMKG terus memantau perkembangan cuaca melalui radar, citra satelit, dan pengamatan lapangan.
Hasilnya kemudian dievaluasi untuk menilai efektivitas operasi, seperti perubahan intensitas hujan, durasi hujan, serta dampaknya terhadap wilayah rawan bencana.
Secara keseluruhan, tujuan teknis OMC bukan untuk menghilangkan hujan, melainkan mengatur waktu, lokasi, dan intensitas hujan agar risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, dan kerusakan infrastruktur dapat diminimalisir. (cr-4).