POSKOTA.CO.ID - Panggung hiburan digital Indonesia memanas setelah penayangan stand up comedy Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono di platform Netflix.
Dalam waktu singkat, Mens Rea berubah dari sebuah pertunjukan komedi menjadi bahan diskusi nasional yang menyita perhatian warganet dari berbagai latar belakang.
Perdebatan semakin tajam ketika diskursus publik tidak lagi berhenti pada isi Mens Rea, melainkan merembet pada perbandingan antara Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika.
Dua nama besar di dunia stand up comedy Indonesia itu diposisikan warganet sebagai representasi dua jalur berbeda dalam berkarya.
Pandji dikenal vokal dan kerap menyentuh isu politik, sementara Raditya Dika identik dengan humor personal, keseharian, dan relatif menjauh dari isu sensitif kekuasaan.
Baca Juga: Istri Pandji Pragiwaksono Siapa? Jadi Sorotan Netizen Usai Viral Kontroversi Mens Rea
Perbandingan Pandji Pragiwaksono vs Raditya Dika Jadi Perdebatan
Salah satu kritik datang dari akun X @direktoridosen yang menyoroti perbedaan strategi keduanya.
"Bagi saya, @pandji terlihat terjebak dalam ambisi menjadi "suara moral" yang justru membatasi jangkauannya, berbeda dengan Raditya Dika yang jauh lebih cerdas dalam menjaga relevansi dengan tetap tidk nyenggol politik dan fokus pada keresahan yang manusiawi," tulis akun X @direktoridosen.
Narasi ini kemudian berkembang luas dan dijadikan pijakan oleh sebagian netizen untuk menilai ulang posisi Pandji di industri hiburan.
Raditya Dika kerap dipersepsikan sebagai figur yang berhasil membangun imperium hiburan yang stabil dan lintas segmen.
Konsistensinya menghadirkan materi yang dekat dengan keseharian membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Sebaliknya, Pandji dinilai oleh sebagian netizen kerap tampil terlalu vokal dalam menyentuh isu politik.
Pendekatan tersebut dianggap melelahkan dan berpotensi memecah audiensnya sendiri.
Pandangan ini menguat dalam opini yang menyebut Pandji kehilangan daya tarik massal karena terlalu sibuk menggurui.
Strategi netralitas Raditya Dika pun dianggap lebih efektif untuk tetap bertahan di puncak industri tanpa harus memelihara kontroversi atau musuh yang tidak perlu.
"saya melihat Pandji kehilangan daya tarik massal dan kredibilitas hiburan karena terlalu sibuk menggurui, membuktikan bahwa strategi netralitas Radit jauh lebih efektif untuk tetap berada di puncak tanpa harus memelihara musuh atau kontroversi yang tidak perlu," tambah akun tersebut.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan cara pandang tersebut. Sejumlah figur publik dan netizen justru menolak upaya dramatisasi konflik.
"Jangan dikasi ide pak," jelas @KuntoAjiW.
Komentar lain datang dari akun X @Pili*** yang menilai konflik tersebut dibesar-besarkan.
"gak mungkin pandji dan radit akan musuhan gegara pancingan netijen..kecuali klo mereka beda pilihan politik baru rame. udah lah gak usah dramatisir..pandji lagi hepi di nyuyok menikmati cuan hasil kerjanya kini dpt tambahan cuan krn dibeli netflix. dan netflix pun cuan krn viral," balas akun X @Pili***.
Sementara itu, sebagian netizen tetap memandang materi Mens Rea sebagai bentuk kritik yang sah.
"tapi panji emang lagi nyentil kita kita para atasan presiden, biar milih tuh yang bener, jangan asal asalan," tulis pengguna X @ardi****.
Sebagai tambahan, Pada 8 Januari 2026, Pandji Pragiwaksono secara resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Rizki Abdul Rahman Wahid.
Pelapor mengklaim mewakili Angkatan Muda NU dan Aliansi Muda Muhammadiyah.
Pandji dituduh melakukan pencemaran nama baik melalui materi dalam Mens Rea.
Menurut Rizki, sejumlah pernyataan dalam pertunjukan tersebut dianggap merendahkan martabat dan berpotensi memecah belah bangsa.
Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Pandji dilaporkan dengan sangkaan melanggar Pasal 300, 301, 242, dan/atau 243 KUHP.