Kondisi rumah warga di Muara Baru, Jakarta Utara yang terlihat retak, Minggu, 11 Januari 2025. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

JAKARTA RAYA

Penurunan Tanah Ancam Pemukiman Muara Baru, Rumah Warga Mulai Retak

Minggu 11 Jan 2026, 17:06 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Penurunan tanah (land subsidence) menjadi salah satu persoalan lingkungan paling serius yang dihadapi Jakarta. Fenomena ini berlangsung perlahan namun konsisten, bahkan di sejumlah wilayah tercatat mencapai beberapa sentimeter per tahun. 

Dampaknya tidak hanya terlihat pada kerusakan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko banjir, rob, dan krisis permukiman. Berbagai penelitian menyebutkan penurunan tanah di Jakarta dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. 

Pengambilan air tanah berlebihan, beban bangunan tinggi, serta kondisi geologi dataran aluvial menjadi penyebab utama. Namun di tengah pembangunan masif dan perubahan iklim, ancaman ini kerap luput dari perhatian publik.

Sejumlah warga di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara turut merasakan efek dari penurunan tanah tersebut. Salah satunya Adinda (47), yang telah tinggal di kawasan tersebut selama delapan tahun terakhir. Ia mengaku mulai merasakan dampak penurunan tanah secara nyata dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: SDN 03 Sukasari Rumpin Bogor Dibobol Maling, Proyektor hingga Kipas Angin Raib

“Banyak, sudah berapa kali saya banjir rob. Kalau sudah rob itu, gatal-gatal semua badan,” kata Adinda pada Minggu, 11 Januari 2025.

Meski kerap terdampak rob, ia tetap bertahan karena tuntutan ekonomi. Adinda bekerja di kawasan pelabuhan, sehingga mau tidak mau harus tetap tinggal di sekitar lokasi tersebut. 

“Kalau enggak bekerja, dari mana biaya makan kita sehari-hari?” ujarnya.

Tak hanya rob, dampak paling mencolok terlihat pada kondisi rumah yang ia tempati. Pondasi bangunan yang baru selesai dibangun sekitar setahun lalu sudah mengalami retakan serius. Retakan bahkan terlihat memanjang ke bawah dan terus melebar meski telah berulang kali ditambal. 

Baca Juga: Bina Marga DKI Sebut Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Mulai Rabu Depan

“Ini rumah baru dibangun, tapi sudah retak. Ditambal, retak lagi. Kelihatan banget penurunan tanahnya,” ungkap Adinda. 

Kondisi tersebut membuat Adinda dihantui rasa khawatir. Ia takut penurunan tanah semakin parah hingga menyebabkan bangunan amblas. 

“Kalau khawatir, pasti. Takutnya tiba-tiba amblas,” ujar dia.

Meski demikian, pindah bukanlah perkara mudah. Adinda mengaku telah membeli sebidang tanah di Bekasi sebagai rencana jangka panjang untuk meninggalkan Muara Baru. Namun keterbatasan biaya membuat rencana tersebut belum bisa direalisasikan. 

“Beli rumah itu bukan sejuta dua juta, ratusan juta. Tanah sudah ada, tinggal bangun, tapi biayanya belum siap,” kata dia.

Baca Juga: Rumah Makan Sambal Gledek Dilalap Api Dini Hari, 16 Unit Mobil Damkar Diterjunkan

Senada dengan Adinda, warga lainnya, Cakra (40), juga merasakan langsung dampak penurunan tanah. Ia telah tinggal di kawasan pelabuhan hampir 10 tahun dan menyebut kerusakan bangunan sebagai tanda paling nyata. 

“Retak-retak. Bahaya. Pintu saja sudah enggak di posisi semula, dibetulkan tetap turun lagi,” kata dia.

Menurut Cakra, kondisi tersebut membuat pintu rumah sulit ditutup karena pergeseran struktur bangunan akibat tanah yang terus turun. 

“Kalau pintu sorong itu, naik turun sedikit saja sudah enggak bisa ditutup. Itu sudah kelihatan tanahnya yang turun,” ujar Cakra.

Sebagai warga yang tinggal dekat laut, Cakra menyebut rob sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ia mengakui intensitas dan dampaknya kini terasa tidak biasa. 

“Kalau dekat pantai sudah jelas terasa. Rob itu sudah jelas, tapi sekarang rasanya makin parah,” ujarnya.

Rasa khawatir tetap ada, namun keterbatasan ekonomi membuat warga hanya bisa bertahan dan beradaptasi seadanya. Upaya yang dilakukan pun sebatas menambal retakan atau mengganjal bangunan. 

“Mau diapakan lagi? Yang geser itu tanahnya, bukan bangunannya,” ucap Cakra. (cr-4)

Tags:
banjir robrobMuara BaruJakarta Utarapenurunan tanah jakartapenurunan tanah

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor