Materi Pandji di Mens Rea menuai pro dan kontra usai dikritik Tompi. Ini perdebatan sekaligus profil pendidikan Tompi dan Pandji Pragiwaksono. (Sumber: Instagram/@pandji.pragiwaksono, @dr_tompi)

HIBURAN

Tompi dan Pandji Pragiwaksono Kian Memanas Usai Debat 'Mata Gibran': Ini Latar Pendidikan Keduanya

Jumat 09 Jan 2026, 14:41 WIB

POSKOTA.CO.ID - Penampilan spesial Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix kembali menjadi bahan perbincangan publik. Salah satu materi yang menyita perhatian adalah candaan Pandji terkait Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut terlihat seperti orang mengantuk karena kondisi matanya.

Materi tersebut memicu pro dan kontra, termasuk tanggapan dari penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi. Lewat sudut pandang medis, Tompi menilai candaan tersebut kurang tepat dan berpotensi menyinggung kondisi fisik seseorang.

Alih-alih memicu konflik berkepanjangan, perbedaan pendapat antara dua figur publik ini justru membuka ruang diskusi yang lebih luas, memperlihatkan bagaimana kritik bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Baca Juga: Rizki Abdul Rahman Wahid Siapa dan Kerja Apa? Ini Sosok Pelapor Pandji Pragiwaksono dalam Kasus Stand Up Comedy Mens Rea

Tompi Soroti Candaan Fisik dari Sisi Medis

Candaan Pandji di Mens Rea soal mata Gibran menuai kritik Tompi. Simak perbedaan sudut pandang keduanya. (Sumber: Instagram/@dr_tompi)

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, Tompi mengkritik materi Pandji yang menjadikan kondisi mata sebagai bahan lelucon. Menurutnya, menertawakan kondisi fisik seseorang bukanlah bentuk kritik yang cerdas, apa pun konteksnya.

Tompi menjelaskan bahwa mata yang tampak mengantuk dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis. Kondisi ini bisa bersifat bawaan, fungsional, maupun berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu. Karena itu, ia menegaskan kondisi tersebut tidak pantas dijadikan bahan candaan.

Meski demikian, Tompi mengaku telah menonton Mens Rea secara utuh dan mengapresiasi banyak materi yang disampaikan Pandji. Ia menilai kritik, satire, dan humor tetap sah dilakukan, selama tidak merendahkan kondisi tubuh seseorang.

Pandji dan Mens Rea: Satire dalam Bingkai Kritik Sosial

Sebagai komika, Pandji Pragiwaksono dikenal kerap menyampaikan kritik sosial dan politik melalui sudut pandang satire. Mens Rea sendiri menjadi ruang bagi Pandji untuk membedah berbagai isu publik dengan gaya khas stand-up comedy yang tajam dan provokatif.

Perbedaan sudut pandang antara Pandji dan Tompi menunjukkan bahwa satu isu dapat dibaca dengan dua kacamata berbeda. Pandji menggunakan pendekatan retorika kritis, sementara Tompi menilainya dari sisi medis dan etika.

Situasi ini justru memperlihatkan kedewasaan kedua figur publik dalam menyikapi perbedaan, tanpa harus berujung pada konflik personal.

Baca Juga: PBNU Tegaskan Angkatan Muda NU yang Laporkan Pandji Pragiwaksono Bukan Bagian dari Organisasi

Profil Tompi: Dokter Bedah Plastik Lulusan UI

Tompi memiliki nama lengkap dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE. Ia lahir di Lhokseumawe, Aceh, pada 22 September 1978. Tompi menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), salah satu kampus terbaik di Tanah Air.

Selama masa kuliah, Tompi aktif menekuni dunia tarik suara. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, ia tetap konsisten berkarier sebagai penyanyi dan telah melahirkan sejumlah album yang dikenal luas oleh masyarakat.

Di bidang medis, Tompi membuka klinik kecantikan Beyoutiful by dr Tompi yang kini memiliki beberapa cabang di Jakarta. Latar belakang akademik dan profesionalnya menunjukkan bahwa dunia seni dan medis bisa berjalan beriringan.

Profil Pandji Pragiwaksono: Stand-Up Comedy Lulusan ITB

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo lahir di Singapura pada 18 Juni 1979. Ia menghabiskan masa kecilnya di Jakarta dan menempuh pendidikan di SMP Negeri 29 Jakarta serta SMA Kolese Gonzaga.

Pandji kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Desain Produk Industri. Kariernya dimulai sebagai penyiar radio dan presenter televisi, sebelum akhirnya terjun ke dunia stand-up comedy pada 2011.

Lewat pertunjukan tunggal Bhineka Tunggal Tawa, Pandji dikenal sebagai salah satu pionir stand-up comedy di Indonesia. Kariernya terus berkembang hingga ke dunia film dan panggung internasional.

Pada 2021, Pandji memutuskan pindah ke New York untuk mengejar mimpi sebagai komika di pusat stand-up comedy dunia. Meski menetap di luar negeri, ia tetap aktif membangun ekosistem stand-up comedy Indonesia melalui Markas Comika.

Baca Juga: Siapa Sebenarnya Angkatan Muda NU yang Laporkan Pandji Pragiwaksono? PBNU Klaim Bukan Bagian dari Organisasi

Perbedaan Sudut Pandang yang Memperkaya Diskusi Publik

Debat soal materi “mata mengantuk” dalam Mens Rea menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman membentuk cara berpikir seseorang. Tompi dengan pendekatan ilmiah dan medis, sementara Pandji dengan sudut pandang satire dan kritik sosial.

Peristiwa ini bukan sekadar polemik hiburan, melainkan juga menjadi ruang pembelajaran bagi publik tentang batasan humor, etika kritik, dan pentingnya melihat isu dari berbagai perspektif.

Tags:
Profil Pandji PragiwaksonoProfil TompiptosisTompiGibran Rakabuming Raka Wakil PresidenMens ReaPandji Pragiwaksono

Aldi Harlanda Irawan

Reporter

Aldi Harlanda Irawan

Editor