Harga Rawit Ijo dan Daging Ayam Masih Tinggi di Pasar, Pedagang Menjerit Omset Menurun

Selasa 06 Jan 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi harga cabai di Jakarta. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Ilustrasi harga cabai di Jakarta. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

"Memang rawit ijo lagi mahal banget. Ya dampaknya omset jadi berkurang. Pendapatannya jadi berkurang, ya karena kenaikan rawit ijo itu. Sementara saya juga enggak bisa naikin harga, kalau saya naikin yang ada pelanggan pada komplain,“ kata Musayemi.

Musa juga mengaku tidak berani mencampur cabai pada racikan sambalnya. Sebab, ia mengatakan racikan sambalnya itu sudah sangat pas dan jika dikurangi bahan, maka khawatir rasanya berbeda.

"Kalau saya kan nggak dicampur, jadi cabai rawit ijo aja. Khusus untuk yang sambal ijonya ya," tuturnya.

Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit hingga Ayam Bertambah Mahal

Sementara pedagang tongseng, Suryati, 42 tahun lebih menerima situasi dengan adanya kenaikan harga bahan baku, pasalnya ia tak bisa menaikkan harga jualannya.

Ia berharap harga-harga bahan pokok ini terjangkau, agar roda ekonomi bisa berputar.

"Harapannya standar aja, yang penting harga stabil. Ekonominya kita juga bisa muter," ucap Suryati.

Suryati mengatakan ketika harga bahan pokok sedang menurun, ia mengaku sama sekali tidak terlalu khawatir terhadap penjualan dagangannya.

Baca Juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Tomang Barat Tembus Rp120 Ribu per Kg

Namun saat naik, seharusnya pemerintah bisa melakukan intervensi sehingga harga stabil.

"Karena berpengaruh ke penjualan, sementara kita kan enggak bisa naikin harga makanan. Jadi kalau harga lagi naik, ya mau enggak mau diterima aja dan harusnya pemerintah bisa intervensi terhadap kenaikan harga bahan pokok,“ ujarnya.

"Kalau kita naikin harga makanan, yang ada pelanggannya pada lari ke warung sebelah,” pungkasnya.


Berita Terkait


News Update