POSKOTA.CO.ID - Etika adalah wejangan yang sering disampaikan untuk kebaikan, termasuk dalam bermedia sosial.
Soal etika bermedia sosial ini pula yang belakangan diangkat menyusul tudingan terhadap Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono berada di balik isu ijazah mantan Presiden Jokowi.
Menyusul isu yang viral di media sosial, Badan Hukum dan Pengamanan Partai Demokrat melalui enam advokat melayangkan surat somasi kepada akun pengunggah isu tersebut. Meski langkah hukum tengah ditempuh, penyelesaian damai melalui permintaan maaf secara terbuka lebih diutamakan.
“Itulah soal etika, tidak serta merta dibawa ke jalur hukum. Sepanjang masih bisa diselesaikan secara damai, mengapa tidak dilakukan,” kata bung Heri kepada mas Bro dan bang Yudi dalam sebuah warteg.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Masih Terasa Gelap, Belum Cerah
“Jadi permintaan maafnya diunggah secara terbuka di media sosial juga ya,” tanya Yudi.
“Sepertinya begitu. Isu tuduhan tersebut viral di media sosial, maka klasifikasinya diharapkan viral pula di media sosial,” kata Heri.
“Viral dibalas viral dong, tetapi akankah sama viralnya?” kata Yudi.
“Itu tafsir kamu. Yang jelas soal etika di ruang publik ini perlu kita jaga bersama,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Dihujat Jangan Patah Semangat
“Sementara risiko melanggar etika menjadi tanggung jawab pribadi, baik tanggung jawab hukum maupun sosial. Ingat etika itu soal baik dan buruk, tentang hak dan kewajiban moral,” jelas mas Bro.
“Karena soal baik dan buruk, maka tafsirnya bisa berbeda – beda.Misalnya memegang wanita di angkutan umum,itu tidak baik, bisa tergolong pelecehan. Tetapi memegang ibu-ibu yang hendak jatuh terdorong penumpang, bisa disebut perbuatan baik,” ucap Heri.
“Begitu juga mengungkap aib atau keburukan orang lain itu dianggap tidak etis, namun boleh jadi dinilai etis jika bertujuan mengingatkan khalayak karena keburukan yang dilakukan itu bisa merugikan atau membahayakan orang lain,” timpal mas Bro.
“Jadi tafsir bisa berbeda tergantung sudut pandang, niat dan tujuan ya,” ujar Yudi.
“Lain lagi terhadap konten yang benar –benar tidak berdasarkan fakta, berita bohong, hoaks dan fitnah,” kata Heri.
“Persoalannya bagaimana memulihkan kepercayaan bahwa berita hoaks?” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Selamat Masuk Tahun Penuh Dinamika
“Ini yang menjadi soal. Tapi, apa pun masalahnya, penyelesaian secara damai itu lebih baik. Bukankah sering dikatakan damai itu indah,” tutur mas Bro. (Joko Lestari)