Ilustrasi Influenza. (Sumber: freepik)

JAKARTA RAYA

Pengamat Kesehatan Ungkap Super Flu Picu Gejala Lebih Berat dan Penyebaran Lebih Cepat

Minggu 04 Jan 2026, 16:53 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat Kesehatan Dicky Budiman menjelaskan bahwa istilah Super Flu sejatinya bukanlah nama resmi dalam dunia medis. Ia menjelaskan, sebutan tersebut awalnya muncul dari pemberitaan media dan kemudian menyebar luas di masyarakat global.

“Sebetulnya Super Flu itu adalah nama yang disematkan oleh media dan akhirnya menyebar di masyarakat di berbagai belahan dunia. Nama ini merujuk pada satu sub-clade K atau sub-varian dari virus Influenza A H3N2,” ujar Dicky kepada Poskota, Minggu, 4 Januari 2025.

Dicky menekankan pentingnya pemahaman dasar mengenai klasifikasi virus influenza. Menurut Dicky, influenza disebabkan oleh empat jenis virus utama, yakni Influenza A, B, C, dan D. Dari keempatnya, Influenza A dan B merupakan jenis yang paling sering bersirkulasi secara musiman dan menyebabkan wabah pada manusia.

“Influenza A itu memiliki banyak turunan. Salah satunya H1N1 yang pernah menyebabkan pandemi pada 1918 sampai 1920 dan sekarang sudah menjadi virus endemik dengan berbagai mutasi. Selain itu ada H3N2, yang cenderung memberikan dampak infeksi lebih parah dibandingkan H1N1,” ucap Dicky. 

Baca Juga: Viral Penusukan Malam Tahun Baru di Kemang Hingga Kritis, Pelaku Masih Berkeliaran

Dicky mengungkapkan bahwa sub-clade K pertama kali terdeteksi sekitar Juni 2025 di Eropa dan Jepang. Varian ini kemudian dijuluki Super Flu karena memiliki karakteristik penyebaran yang lebih cepat dan muncul lebih awal dari siklus influenza musiman.

“Virus ini memicu wabah lebih awal dari siklus rutinnya. Misalnya, sudah muncul satu bulan sebelum puncak musim dingin di belahan bumi utara, sekitar Oktober atau November,” kata Dicky.

Selain cepat menyebar, gejala yang ditimbulkan juga dinilai lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia di atas 65 tahun dan anak-anak di bawah usia lima tahun. Ia menyebutkan, keluhan yang sering dialami pasien meliputi batuk yang lebih lama, dahak lebih banyak, serta nyeri telan yang sangat tajam dan terasa pedas.

“Keluhannya itu mirip dengan COVID-19. Batuknya lama, dahaknya banyak, dan nyeri telannya sangat mengganggu,” ungkapnya.

Baca Juga: Polisi Selidiki Penemuan Jasad Pria Lanjut Usia Tanpa Identitas di Area Persawahan Kronjo

Secara global, Dicky memperkirakan sekitar tiga juta orang telah terinfeksi, dengan ratusan ribu di antaranya masuk kategori kasus parah. Bahkan, pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit rata-rata harus menjalani rawat inap selama 7 hingga 14 hari.

Terkait kondisi di Indonesia, Dicky menilai tantangan terbesar terletak pada rendahnya literasi vaksin influenza di masyarakat. Banyak warga, kata dia, baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah cukup parah.

“Di Indonesia ini tantangannya adalah kesadaran. Banyak yang datang ke rumah sakit saat kondisinya sudah berat,” ujarnya.

Ia memperkirakan pada akhir dan awal tahun, terutama di musim penghujan, potensi penyebaran Super Flu cukup besar. Bahkan, menurutnya, 80 hingga 90 persen kasus flu yang beredar saat ini berpotensi disebabkan oleh sub-clade K.

Baca Juga: Antisipasi Tawuran Berulang, Brimob Polda Metro Jaya Patroli di Wilayah Cipinang

Dicky menegaskan bahwa vaksinasi influenza sangat penting untuk mencegah keparahan, kematian, serta menjadi penghalang penularan bagi kelompok berisiko tinggi seperti penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan imunitas, hingga ibu hamil.

“Vaksin itu bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga menjadi barrier penularan, terutama untuk kelompok rentan,” kata Dicky.

Dicky juga menjelaskan alasan mengapa data kasus banyak didominasi oleh anak-anak dan perempuan. Menurutnya anak-anak, khususnya di bawah lima tahun dan terlebih lagi di bawah dua tahun, memang merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan karena sistem imunitasnya masih berkembang.

“Anak-anak ini imunitasnya belum matang. Ditambah lagi kalau orang tua atau pengasuhnya kurang paham, dibawa ke mana-mana, liburan, dicium orang dewasa, itu meningkatkan risiko paparan,” jelasnya.

Selain itu, kasus pada anak-anak lebih banyak terlaporkan karena orang tua cenderung segera membawa anak ke fasilitas kesehatan ketika sakit. Sementara pada orang dewasa muda, banyak yang memilih mengobati sendiri di rumah sehingga tidak tercatat dalam sistem pelaporan.

“Padahal sebetulnya kasus pada orang dewasa itu jauh lebih banyak, tapi tidak terdeteksi,” katanya.

Hal serupa juga terjadi pada perempuan. Menurut Dicky, perempuan cenderung lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sehingga lebih cepat mencari pertolongan medis.

“Kalau laki-laki itu secara psikologis sering diam saja sampai parah. Itu sudah umum di mana-mana. Jadi yang terjaring sistem kesehatan dan pelaporan itu lebih banyak wanita dan anak-anak,” kata Dicky.

Sebagai langkah pencegahan, Dicky mengimbau masyarakat untuk melakukan vaksinasi influenza, menerapkan protokol kesehatan, melindungi anggota keluarga yang rentan, serta tetap berada di rumah saat sakit dan menghindari kontak langsung dengan bayi maupun orang dengan penyakit penyerta. (cr-4)

Tags:
Dicky Budimaninfluenzaflusuper flupengamat kesehatan

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor