Ilustrasi ekspor mobil asal Indonesia. (Sumber: Poskota/Erwan Hartawan)

OTOMOTIF

Jauh dari Indonesia, Meksiko Justru Borong Mobil Rakitan Lokal

Jumat 02 Jan 2026, 19:02 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Selama bertahun-tahun, peta ekspor mobil rakitan Indonesia identik dengan negara-negara Asia. Faktor jarak yang dekat, ongkos logistik lebih efisien, serta kemiripan karakter konsumen membuat kawasan ini menjadi tujuan utama industri otomotif nasional.

Namun, sejak 2023, muncul anomali menarik dalam data ekspor kendaraan. Meksiko, negara yang secara geografis terletak jauh dari Indonesia, justru melonjak ke posisi kedua sebagai pasar tujuan ekspor mobil CBU (completely built up) asal Tanah Air.

Fenomena ini dinilai mencerminkan perubahan lanskap perdagangan otomotif global, di mana jarak tidak lagi menjadi penghalang utama selama produk mampu menjawab kebutuhan pasar tujuan.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa ketertarikan pasar Meksiko terhadap mobil rakitan Indonesia tidak terjadi secara kebetulan. Ada kesamaan karakter konsumen yang menjadi faktor pendorong.

Baca Juga: Rival Ikut Meniru, BYD Tetap Tancap Gas Kembangkan Teknologi Mobil Listrik

“Sebetulnya pasar Meksiko lebih besar dari Indonesia, mungkin sekitar 2 jutaan unit. Kalau dilihat dari pendapatan (masyarakatnya) sebenarnya sama,” kata Kukuh di Jakarta, dikutip Jumat, 2 Januari 2026.

Ia menjelaskan, secara demografis dan tingkat daya beli, masyarakat Meksiko memiliki kemiripan dengan konsumen Indonesia. Bedanya, pasar otomotif di negara Amerika Utara itu relatif lebih terbuka terhadap produk impor.

Kondisi tersebut membuka ruang kompetisi yang lebih luas bagi produsen kendaraan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk bersaing secara langsung di pasar Meksiko.

Berdasarkan catatan Gaikindo, volume ekspor mobil CBU dari Indonesia ke Meksiko sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai 61.766 unit. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar Meksiko tidak bisa lagi dipandang sebagai pasar alternatif semata.

“Ini yang perlu kita garap dengan serius, karena ini juga pasar yang tidak bisa kita remehkan. Pada kenyataannya, jarak jauh pun mereka jabanin,” ujar Kukuh.

Saat ini, setidaknya lima pabrikan otomotif aktif mengirimkan mobil produksi Indonesia ke Meksiko, yakni Hyundai, Honda, Toyota, Mitsubishi, dan Suzuki. Model yang diekspor mayoritas berasal dari segmen kendaraan penumpang yang menekankan keseimbangan antara harga, efisiensi bahan bakar, serta ketahanan.

Baca Juga: Leapmotor B10 Setir Kanan Mengaspal, Seberapa Siap untuk Pasar Indonesia?

Lebih jauh, Kukuh menilai persepsi konsumen Meksiko terhadap produk otomotif Indonesia terus mengalami perbaikan. Kualitas menjadi faktor penting yang mulai diakui oleh pasar setempat.

“Dengan ekonominya, mereka (Meksiko) baru tahu ‘oh produk-produk Indonesia boleh nih’. Itu yang menjadikan potensi pasarnya besar,” ucapnya.

Tak hanya kendaraan utuh, hubungan dagang otomotif Indonesia dan Meksiko juga mencakup ekspor komponen. Bahkan, mesin kendaraan produksi Indonesia tercatat menjadi salah satu komoditas yang diminati.

“Mereka impor mesin mobil dari Indonesia, itu yang menarik pada pasar Amerika Selatan,” kata Kukuh.

Meski peluangnya besar, ekspor mobil rakitan Indonesia ke Meksiko pada tahun ini diperkirakan menghadapi tantangan baru. Pemerintah Meksiko diketahui menerapkan tarif impor sebesar 35 persen bagi negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA).

Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi daya saing harga mobil buatan Indonesia di pasar Meksiko, sekaligus menjadi pekerjaan rumah baru bagi industri otomotif nasional dalam menjaga momentum ekspor.

Tags:
ekspor mobilMeksikoindustri otomotif nasional

Erwan Hartawan

Reporter

Fani Ferdiansyah

Editor