PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Warga di Kecamatan Patia dan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, mengeluhkan jalan rusak disebabkan proyek Tol Serang-Panimbang.
Salah seorang warga Desa Pasirgadung, Kecamatan Patia, Entis Sumantri menyampaikan, jalan rusak merupakan akses utama penduduk sekitar.
"Kondisi jalan seperti itu (rusak-red) dipicu oleh aktivitas kendaraan berat yang menuju proyek jalan Tol Serpan. Kami resah dengan akses jalan di wilayah kami saat ini," lata Entis, Rabu, 10 Desember 2025.
Entis mengatakan, jalan tersebut berubah menjadi lumpur dan dipenuhi urukan tanah dari aktivitas proyek.
Baca Juga: Bejat, Ayah di Pandeglang Hamili Anak Kandungnya
"Kondisi jalan semakin memprihatinkan terutama saat musim hujan, karena lumpur tebal membuat kendaraan roda dua maupun roda empat sulit melintas," ujarnya.
Menurutnya, akses jalan itu juga merupakan jalur vital bagi masyarakat, termasuk para pelajar yang bersekolah di SDN, SMPN, hingga SMKN 13 Pandeglang.
“Setiap hari saya melewati jalan ini saya juga sering terpeleset jatuh saat melintasi jalan ini," ucapnya.
Ia berharap, pemangku kebijakan segera mencari solusi supaya masyarakat dapat beraktivitas tanpa dihantui rasa takut.
Baca Juga: SD Negeri Labuan 1 di Pandeglang Batalkan Rencana Pembelian Seragam Muslim Siswa
"Kami hanya ingin akses jalan ini segera diperbaiki. Sudah hampir satu tahun dibiarkan rusak seperti ini akibat terdampak proyek tol Serang-Panimbang,” ucap dia.
Aktivis HMI itu juga menilai pihak perusahaan dan pemerintah abai terhadap kondisi jalan tersebut. Padahal, warga sudah berkali-kali menyampaikan keluhan, tetapi tidak direspons.
"Dua perusahaan pelaksana proyek tol Serpan yakni, PT Sino Road and Bridge Group dan PT Hutama Karya (HK) KSO, juga dianggap tidak menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki akses jalan warga yang terdampak," ujar dia.
Ia menegaskan, persoalan ini tidak bisa terus dibiarkan, karena menyangkut kepentingan masyarakat Patia, Sukaresmi, dan wilayah sekitarnya.
“Ini masih tanggung jawab perusahaan. Mereka wajib mengantisipasi dampak lingkungan dan lalu lintas sesuai Amdal dan Andalalin, tapi faktanya masyarakat yang dirugikan, apakah ini yang dikatakan memberikan dampak positif. Saya rasa tidak, karena banyak warga yang ngeluh," katanya.
Akses yang terisolasi berdampak terhadap roda ekonomi masyarakat.
"Ini jelas menghambat pertumbuhan ekonomi warga. Bahkan anak-anak sekolah harus melewati jalan lumpur," tutur dia. (fat)