Lebih lanjut, Siti menyebut, meski sudah terbiasa, warga tetap merasa waswas menghadapi kabar dari BMKG soal potensi La Niña akhir tahun ini yang bisa memicu curah hujan ekstrem.
“Dibilang was-was ya was-was, tapi ya mau gimana lagi. Kita udah biasa. Paling penting siap-siap aja,” ujar Siti.
Siti berharap, agar pemerintah daerah dapat segera melakukan antisipasi usai muncul potensi fenomena La Nina tersebut.
"Ya harapannya sih buat pemerintah bisa lah ngatasi banjir gitu maksudnya udah harus diantisipasi lah," katanya.
Cerita serupa datang dari Efrina , warga lain yang juga lahir dan besar di bantaran Kali Ciliwung. Ia menuturkan, banjir di wilayahnya sudah seperti rutinitas tahunan, bahkan kini tak menentu waktunya.
Baca Juga: BPBD Jakarta Siapkan Langkah Antisipasi Hadapi La Nina
“Kalau dulu banjir itu biasanya bulan 6 atau 12. Tapi sekarang udah gak nentu. Kemarin pas bulan puasa, Maret, tiba-tiba banjir juga,” kata Efrina.
Menurutnya, kondisi terparah terjadi pada tahun 2019, ketika air naik hingga menenggelamkan lantai dua rumah-rumah warga.
“Itu parah banget, air udah sampai lantai dua. Kita sampai berenang nyari aman ke atas,” ujarnya.
Meski begitu, Erina menyampaikan, bukan sekadar soal air yang meluap, tapi soal minimnya bantuan dari pemerintah.
Baca Juga: Antisipasi La Nina, Pengamat Ekonomi Pertanian IPB: Pemerintah Harus Memetakan Wilayah Rawan Banjir
“Kita ini dibilang ‘kampung mati’. Kalau banjir, gak pernah ada bantuan yang sampai ke bawah. Biasanya yang dapat itu warga atas yang ngungsi ke tenda. Kita paling dikasih nasi box, itu pun kadang,” ungkapnya. (cr-4)
