POSKOTA.CO.ID - Perayaan Lebaran 2025 diwarnai dengan berbagai fenomena unik yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Salah satunya adalah tarian THR atau "tarian pemanggil THR" yang tiba-tiba populer dan banyak ditiru oleh netizen dengan beragam tujuan.
Namun, tarian ini menuai kontroversi setelah beberapa kalangan menyoroti kemiripan gerakannya dengan tarian Hora, tarian tradisional khas Yahudi.
Tarian THR vs Tarian Yahudi yang Viral di Medsos
Fenomena tarian THR berawal dari berbagai video di platform sosial yang menampilkan orang-orang menari dengan gerakan kaki khas.
Baca Juga: Sosok Walid dalam Drama Malaysia Bidaah Viral di TikTok, Siapa Dia Sebenarnya?
Ciri Khas Gerakan Tarian THR:
- Dimulai dengan langkah kaki ke kanan dan kiri.
- Dilanjutkan dengan lompatan kecil ke depan dan belakang.
- Dilakukan secara serempak, menyerupai tarian dalam formasi melingkar.
Banyak yang menilai gerakan ini mirip dengan tarian Hora, tarian rakyat yang lekat dengan budaya Yahudi.
Keterkaitan dengan Tarian Hora Yahudi
Menurut sejumlah sumber, tarian Hora memiliki akar sejarah yang dalam di budaya Israel.
Sejarah Tarian Hora:
- Berasal dari tradisi rakyat Israel.
- Melambangkan kebahagiaan dan kebersamaan.
- Sering ditampilkan dalam acara pernikahan dan perayaan penting.
- Biasanya diiringi musik tradisional seperti lagu "Hava Nagila."
Tarian ini dikembangkan oleh koreografer Israel yang memadukan unsur-unsur tarian dari berbagai budaya, seperti Hasidik, Balkan, Rusia, Arab, dan Yaman.
Popularitas tarian THR memicu perdebatan sengit di kalangan netizen. Sebagian mengimbau umat Muslim untuk lebih bijak dalam mengadopsi budaya asing.
Baca Juga: Viral! Ruben Onsu Mualaf Oleh Sebab Desi Ratnasari? Denny Darko Ungkap Fakta yang Mengejutkannya
Beberapa pihak mengingatkan bahwa infiltrasi pemikiran bisa dimulai dari perubahan budaya.
Sejumlah netizen mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka." (HR Abu Daud dan Ahmad)
Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa tarian ini hanyalah hiburan semata tanpa kaitan dengan agama atau budaya tertentu.
Sebagian netizen menilai polemik ini terlalu dibesar-besarkan dan menganggapnya sebagai bagian dari euforia Lebaran.
Menyikapi hal ini, beberapa ulama dan tokoh agama menyarankan agar umat Muslim lebih selektif dalam mengikuti tren.
Mereka mengingatkan agar budaya yang berkembang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan identitas bangsa.