Soal Polemik Pesepeda, Anggota DPRD DKI Kenneth: Fokus Saja Pandemi Covid-19 dan Banjir!

Minggu 06 Jun 2021, 23:57 WIB
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth. (foto: ist)

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth. (foto: ist)

JAKARTA, POSKOTA,CO.ID - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth menyayangkan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, terkait dengan polemik pesepeda. Anies menyebut pesepeda sebagai pengguna jalan yang lebih berisiko dibanding pengendara kendaraan bermotor. Karenanya, Anies meminta kepada pemotor agar menghormati penggowes.

"Saya sangat tidak setuju dengan pendapat yang dilontarkan oleh Pak Anies, yang mengenai pemotor diminta untuk lebih menghormati pesepeda yang melintas di jalan, menurut saya jika pesepeda mempunyai etika dan sopan santun dalam berkendara di jalan, tidak akan terjadi konflik dan opini negatif berkepanjangan seperti sekarang ini," ketus Kenneth dalam keterangannya, Minggu (6/6/2021).

Pria yang kerap disapa Kent itu menilai, orang nomor satu di Jakarta itu asal berbicara tidak berdasarkan data, dan tanpa melihat realita dan efek negatif yang akan muncul pada kemudian hari.

"Janganlah terkesan meng-anak emaskan pesepeda, memangnya warga Jakarta semuanya memakai sepeda? kan enggak juga. Banyak warga DKI yang masih menggunakan motor dan mobil, dan kendaraan yang mereka pakai membayar pajak setiap tahunnya untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah) DKI Jakarta, dengan uang PAD inilah yang bisa digunakan untuk pembangunan di DKI Jakarta. Pertanyaan saya, apakah sepeda membayar pajak setiap tahunnya? Tidak toh?, Jadi apa yang harus diistimewakan?," tutur Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta itu.

Menurut Kent, jika hanya untuk mengurangi kemacetan serta polusi udara di Jakarta, bisa dilakukan dengan cara sosialiasi dan edukasi yang baik serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

"Kalau mau mengimbau masyarakat untuk naik sepeda, supaya untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara juga tidak dengan cara feodal seperti ini. Jangan ada diksi perbedaan road bike atau non road bike, tidak juga semua masyarakat bisa membeli sepeda mahal. Jadi dengan strategi seperti ini, terkesan Pak Anies ini memaksa dan tidak memberikan masyarakat pilihan yang lain," ketusnya.

Kent menuturkan, dirinya juga senang menggunakan sepeda saat waktu senggang hanya untuk berolahraga. Namun, ia tidak seperti oknum para pesepeda yang arogan di jalan dan tidak mematuhi aturan dan undang undang yang berlaku.

"Saya juga main sepeda, tapi enggak gitu-gitu amat. Lihat waktu dan kondisi lah pada saat main sepeda, jangan seenaknya aja di jalan tanpa memedulikan hak pengguna jalan yang lain," sambung Kent.

Dalam kondisi Pandemi seperti ini, sambung Kent, semua sangat serba sensitif. Jadi harus sangat berhati hati dalam membuat sebuah kebijakan, harus bisa berpikir secara komprehensif dan bisa mengakomodir kepentingan semua warga DKI Jakarta,  jangan sampai terkesan kebijakan yang dibuat serasa berat sebelah.

"Jangan sampai membuat kebijakan yang tidak adil, harus memikirkan kepentingan seluruh masyarakat DKI Jakarta. Sebelum kebijakan itu dieksekusi, seharusnya tanyakan dulu ke masyarakat DKI, apakah setuju atau tidak. Apakah lebih banyak manfaat daripada mudaratnya? Tidak bisa membuat kebijakan secara sepihak seperti ini yang pada akhirnya akan menjadi polemik negatif berkepanjangan seperti sekarang ini," tegas Kent. 

"Gubernur DKI Jakarta itu ibarat Bapak bagi masyarakat DKI Jakarta, masyarakat DKI Jakarta adalah anak-anaknya. Jadi harus bisa membuat aturan yang bijaksana, ke depankan asas keadilan sosial, supaya seluruh masyarakat DKI Jakarta bisa merasakan manfaatnya," sambung Kent.


Berita Terkait


News Update