Karhutla Berulang Tiap Tahun, Ganjar Pranowo Sodorkan 5 Langkah Darurat untuk Pemerintah

Rabu 21 Okt 2026, 15:15 WIB
Ganjar Pranowo usulkan 5 langkah strategis yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menghadapi bencana karhutla. (Sumber: Dok. X/@ganjarpranowo)
Ganjar Pranowo usulkan 5 langkah strategis yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menghadapi bencana karhutla. (Sumber: Dok. X/@ganjarpranowo)

POSKOTA.CO.ID - Politisi Ganjar Pranowo memberikan sorotan tajam atas musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali memburuk pada Oktober 2026. Mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai selalu terjebak dalam pola penanganan bencana berulang yang tidak kunjung usai.

Dalam keterangannya, pria berusia 57 tahun itu mengibaratkan penanganan karhutla di Indonesia mirip dengan kisah film Groundhog Day serta mitos Sisyphus yang terus-menerus mengulangi pekerjaan yang sama tanpa penyelesaian permanen. Padahal, BMKG telah memprediksi hadirnya kemarau ekstrem El Nino sejak tahun lalu, tetapi pemerintah dinilai tetap kecolongan menghadapi lonjakan titik api.

Data Dampak Karhutla 2026 Memprihatinkan, Ganjar Sentil Faktor Manusia

Politisi kelahiran Karanganyar tersebut membeberkan fakta bahwa karhutla bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan dipicu oleh aktivitas manusia atau faktor antropogenik. Merujuk pada riset akademisi kehutanan, sebanyak 99 persen kebakaran hutan di wilayah tropis terjadi akibat kelalaian maupun kesengajaan manusia. Dugaan tersebut diperkuat oleh fakta bahwa separuh titik api muncul di kawasan berizin, disertai dengan temuan kemunculan bibit sawit baru di lahan bekas kebakaran.

Ganjar menyampaikan bencana karhutla tahun ini telah menimbulkan krisis kesehatan, ekonomi, dan lingkungan yang sangat besar. Tercatat sebanyak 17,4 juta warga terdampak asap, 174.694 jiwa terserang ISPA termasuk 40.363 balita, kerugian ekonomi menembus Rp123 triliun, 1.813 penerbangan terganggu, serta pelepasan emisi karbon mencapai 140,5 juta ton CO2 yang berlanjut mencemari negara tetangga.

Baca Juga: Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran, Dari Karhutla hingga Biaya Hidup Mencekik

“Simpati terdalam saya sampaikan kepada 17,4 juta saudara-saudara kita yang terdampak, pada 174.694 warga dan 40.363 balita yang terkena ISPA, serta mereka yang mengalami kerugian ekonomi,” tegas Ganjar Pranowo, dikutip Poskota pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Oleh karena itu, suami dari Siti Atikoh ini mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas keterlibatan korporasi, menghapus izin pembakaran, serta mengevaluasi kembali pemberian Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit di kawasan lahan gambut.

5 Solusi Darurat Karhutla dari Ganjar Pranowo

Sebagai bentuk penanganan krisis saat ini, Ganjar merumuskan lima langkah strategis yang dapat dieksekusi oleh pemerintah pusat dan daerah. Usulan taktis ini disampaikan untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat serta mempercepat pemadaman api di kawasan rawan bencana.

  1. Pemerintah didesak agar segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional mengingat skala kerusakan yang luas serta dampak kabut asap yang sudah meluas hingga ke negara tetangga.
  2. Terjunkan lebih banyak personel terlatih serta mengonversi peralatan transportasi darat, laut, dan udara untuk menjadi armada pemadaman api yang terkoordinasi secara masif.
  3. Alihkan sementara anggaran program berdana besar untuk pemadaman, bantuan ekonomi UMKM, penanggungan biaya pengobatan korban bencana, serta pembagian masker dan oksigen.
  4. Liburkan sekolah dan menerapkan sistem belajar dari rumah bagi wilayah yang masih terkepung asap demi melindungi kesehatan serta keselamatan anak-anak.
  5. Kerahkan seluruh pejabat terkait untuk berkantor langsung di wilayah terdampak karhutla agar dapat merasakan sendiri sesaknya kepungan asap di lapangan sehingga penanganan bisa lebih cepat dilakukan.

Baca Juga: Mendagri Sebut Penanganan Karhutla Terus Dioptimalkan Meski Diterpa Berbagai Tantangan

Ganjar juga menegaskan bahwa masyarakat terdampak di berbagai pelosok wilayah Indonesia saat ini membutuhkan perhatian serius dan respons cepat dari para pemangku kebijakan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla sangat bergantung pada kemauan serta keberanian pemerintah untuk memastikan bencana ini tidak kembali terulang di tahun-tahun mendatang. (M7)


Berita Terkait


News Update