Profil Ajudan Gubernur Kaltim, Diduga Senggol dan Bentak Pendemo

Selasa 20 Okt 2026, 16:41 WIB
Ajudan Gubernur Kaltim lakukan tindakan arogan terhadap massa demo di Samarinda. (Sumber: Dok. Instagram/@dewanperwakilanetizen.id)
Ajudan Gubernur Kaltim lakukan tindakan arogan terhadap massa demo di Samarinda. (Sumber: Dok. Instagram/@dewanperwakilanetizen.id)

POSKOTA.CO.ID - Sikap kasar diduga ditunjukkan oleh salah seorang ajudan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud terhadap massa aksi demo di Samarinda. Insiden kontak fisik tersebut memicu amarah netizen yang lantas bergerak bersama untuk mengupas tuntas identitas oknum pengawal kepala daerah tersebut.

Peristiwa tidak menyenangkan itu menimpa kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda di lingkungan Masjid Nurul Mu’minin, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, pada Senin sore, 19 Oktober 2026. Aksi unjuk rasa yang sejatinya menuntut penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu berakhir tegang akibat ulah sang ajudan.

Kronologi Dugaan Kontak Fisik Ajudan Gubernur Terhadap Mahasiswa

Peristiwa berawal saat massa aksi telah menyelesaikan agenda unjuk rasa sekitar pukul 18.00 WITA. Sambil menunggu berkumandangnya azan Magrib di lingkungan Masjid Nurul Mu’minin Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, para mahasiswa duduk beristirahat di area tersebut sebelum membubarkan diri.

Kader GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati menegaskan bahwa situasi di lokasi saat itu dalam kondisi aman dan massa aksi sama sekali tidak memicu keributan.

Baca Juga: Said Didu Soroti Demo yang Terjadi Belakangan: Karena Sikap Arogan DPR dan Gaya Hidup Hedonis

“Teman-teman GMNI sebenarnya tidak ngapa-ngapain. Kami cuma duduk karena memang sudah mau pulang,” ujar Rossa kepada awak media, dikutip Poskota pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Situasi mendadak berubah saat Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud tiba bersama dua orang ajudannya untuk melaksanakan ibadah salat. Kedatangan sang kepala daerah memancing reaksi mahasiswa yang merasa kecewa karena mereka sebelumnya tidak ditemui saat demonstrasi berlangsung.

Rossa lantas merekam kedatangan rombongan gubernur sembari melontarkan pertanyaan terkait alasan tidak ditemuinya massa aksi, tanpa melakukan penghadangan sedikit pun. Ketegangan mulai pecah usai gubernur melintas, seorang ajudan secara mendadak mencoba menarik telepon genggam yang digunakan rossa untuk merekam.

Melihat perlakuan kasar tersebut, mahasiswa lain melontarkan reaksi protes. Ajudan gubernur kemudian mendatangi barisan mahasiswa dan langsung melakukan kontak fisik dengan menabrakkan badan ke salah satu peserta aksi, hingga berlanjut pada aksi saling dorong dengan mahasiswa lainnya.

Baca Juga: Kepala Puskesmas Diduga Singgung Kinerja Relawan Kesehatan, DPRD Pandeglang Nilai Arogan

Reaksi Keras Netizen hingga Gerakan Membongkar Identitas Ajudan

Aksi represif tersebut memicu gelombang kecaman luas di jagat media sosial. Netizen menilai tindakan kasar yang ditunjukkan oleh jajaran pengawal pejabat publik kepada masyarakat merupakan bentuk kesewenang-wenangan yang tidak dapat ditoleransi.


Berita Terkait


News Update