Synchronize Fest 2026 jadi Wadah Aspirasi, Deretan Musisi Kompak Suarakan Kondisi Indonesia di Atas Panggung

Senin 19 Okt 2026, 17:21 WIB
Panggung Synchronize Fest 2026 yang menjadi tempat bagi para musisi untuk menyuarakan kondisi kritis di Indonesia. (Sumber: Instagram/@synchronizefest)
Panggung Synchronize Fest 2026 yang menjadi tempat bagi para musisi untuk menyuarakan kondisi kritis di Indonesia. (Sumber: Instagram/@synchronizefest)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Gelaran festival musik tahunan Synchronize Fest 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat-Sabtu,16-18 Oktober 2026, jadi panggung bagi para musisi menyuarakan kondisi Indonesia.

Mengusung tema “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement”, ajang ini tidak hanya menyajikan hiburan musik, tetapi juga menjadi wadah solidaritas bagi masyarakat.

Sederet penyanyi grup band ternama Tanah Air menyampaikan kritik sosial, isu bencana alam, hingga sindiran terhadap pemerintah. Di tengah ribuan pengunjung yang memadati area festival, pesan-pesan keras mengenai isu lingkungan dan situasi sosial menggema kuat sepanjang tiga hari penyelenggaraan acara.

Aksi Musisi Suarakan Kondisi Indonesia dari Atas Panggung

Panggung Synchronize Fest 2026 langsung memanas sejak hari pertama lewat penampilan pembuka yang dibawakan Efek Rumah Kaca. Mereka membawakan lagu “Di Udara” yang maknanya lekat dengan simbol perjuangan HAM.

Baca Juga: 10 Event Jakarta Oktober 2026: Festival Film, Pameran, Kuliner, hingga Konser Musik

Selain itu, mereka juga berkolaborasi dengan grup teater Jakarta 32 yang menyajikan penampilan “Olah Tubuh Ompreng MBG” sebagai bentuk kritik atas realitas sosial masyarakat.

Aksi kritik juga ditunjukkan oleh grup musik The Panturas yang memanfaatkan layar latar panggung utama saat tampil. Di tengah pertunjukan, grup band asal Jatinangor ini menampilkan pesan ucapan bernada satire yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait isu kebakaran hutan.

“HBD PRABOWO TIUP HUTANNYA SEKARANG JUGA,” tulis The Panturas, dikutip Poskota, Senin, 19 Oktober 2026.

Sementara itu, band indie rock The Jansen menyampaikan kritik lingkungan lewat perubahan teks di layar panggung. Mereka mengubah judul lagu populer mereka dari "Langit Tak Seharusnya Biru" menjadi "Langit Tak Seharusnya Penuh Asap" untuk merespons kondisi polusi udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pimpin Doa Bersama di Panggung

Selain pesan satire dan kritik sosial, panggung festival juga diwarnai aksi solidaritas dan doa bersama dari para penampil. Grup band Barasuara menjadi salah satu penampil yang memanfaatkan panggung untuk mengajak penonton mendoakan masyarakat di daerah terdampak bencana karhutla.

“Perkenalkan kami Barasuara, band yang turut sesak napas juga, tetapi tidak separah saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan dan Sumatra. Kita semua tahu malam ini mereka semua masih berjuang untuk bernapas karena udaranya tercemar asap kebakaran hutan. Mari kita berikan doa dan dukungan bagi mereka semua,” ujar vokalis Barasuara.

Baca Juga: Pramono Anung Optimis JRF dan Konser Kanye West Dongkrak Perputaran Ekonomi Jakarta Tembus Rp150 Miliar

Suasana haru juga tercipta saat grup Wali tampil di panggung festival. Sebelum memulai penampilan, para personel Wali memimpin gestur doa bersama secara terbuka bersama dengan penonton.

“Ya Allah, untuk saudara-saudara kami yang kesulitan bernapas karena udaranya tidak baik, berikan mereka kesabaran dan kekuatan. Bukakan mata dan hati para pemimpin kami,” ucap Faank Wali di atas panggung yang kemudian diaminkan oleh para penonton.

Deretan aksi tersebut menunjukkan bagaimana panggung Synchronize Fest 2026 menjadi ruang bagi para musisi untuk menyuarakan berbagai persoalan yang sedang terjadi di Indonesia. (M7)


Berita Terkait


News Update