Pertanyaan serupa juga menjadi perhatian edukator sekaligus dosen, Kalimasada, yang membahas pergerakan harga emas dan strategi pengelolaan portofolio.
Dalam penjelasannya, ia mengingatkan, status emas sebagai aset safe haven bukan berarti harganya akan selalu mengalami kenaikan.
"Safe haven itu bukan berarti aset itu kebal koreksi. Karena koreksi itu part of the game," kata dia seperti dikutip dari kanal YouTube Kalimasada, pada Selasa, 29 September 2026.
Menurut Kalimasada, investor perlu memahami bahwa tidak ada aset yang selalu bergerak naik.
Ia menilai investor sebaiknya tidak hanya melihat pergerakan harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperhatikan tujuan kepemilikan emas, kondisi fundamental, serta komposisi aset dalam portofolio.
"Enggak ada sesuatu itu yang sifatnya selalu naik," tandasnya.
Kalimasada juga menilai emas masih memiliki peran dalam menjaga nilai aset ketika terjadi ketidakpastian ekonomi.
Namun, menurutnya, peran tersebut perlu ditempatkan dalam konteks diversifikasi, bukan sebagai satu-satunya aset dalam portofolio.
"Sebagai seorang investor itu adalah melindungi diri. Karena potensi cuan itu kita lihat nanti dulu. Pertama kita harus melindungi diri dulu," sambung co-founder dari Akademi Kripto itu.
Salah satu strategi yang dibahas Kalimasada adalah melakukan pembelian secara bertahap.
Dengan strategi tersebut, kata dia, investor tidak harus memasukkan seluruh dana sekaligus pada satu level harga.
"Kalau kamu beli bertahap ya mungkin 2 persen, 5 persen, 10 persen dari kamu punya komposisi duit bulanan," bebernya.
