Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Apa yang telah diikrarkan sebelumnya, kini telah ditunaikan. Mantan presiden Jokowi telah turun ke lapangan melakukan safari politik keliling Indonesia.
Seperti diberitakan, Jokowi memulai safari dari Lampung, Jumat, 26 Juni 2026 dengan sejumlah agenda internal PSI (Partai Solidaritas Indonesia) dan menghadiri sejumlah pertemuan selama tiga hari di sana.
Sejumlah elite parpol lain yang dimintai pendapatnya mengatakan safari politik Jokowi ini sebagai kampanye menuju 2029. Untuk memenangkan PSI menuju Senayan, setelah pemilu 2024 lalu gagal masuk parlemen.
Pendapat tersebut tak berlebihan mengingat Jokowi sendiri saat safari politik ke Lampung mengenakan seragam dan atribut PSI.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Teganya, Uang Rakyat untuk Bancakan
Presiden ke-7 RI tersebut mengaku, baju tersebut dikirim anaknya, Kaesang yang juga Ketum PSI. kemudian dipakai.
Menarik dicermati, komentar pengamat politik bahwa hasil safari tak otomatis linier dengan hasil pemilu. Sebut saja meriahnya masyarakat menghadiri pertemuan dengan Jokowi, belum tentu akan semeriah hasil suara pada pemilu.
“Tapi Jokowi katanya masih memiliki daya tarik,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Tak terbantahkan Jokowi masih menarik perhatian publik, masih sering diperbincangkan masyarakat dari segala sisi, tetapi apakan masih memiliki elektabilitas tinggi, itu yang perlu diuji,” jelas Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Selamanya Mengekor Itu Buruk
“Ujian awal pada gelaran safari politik ini. Apakah masyarakat masih berduyun – duyun menghadiri acara Jokowi atau tidak. Apakah Masyarakat masih saling berebut salaman dan minta foto selfie dengan Jokowi.Jika pemandangan terlihat dengan pasti, pertanda Jokowi masih memiliki daya tarik,” urai mas Bro.
“Kalau tidak, berarti popularitas mulai menurun, meski soal banyaknya warga yang hadir bisa dimobilisir ya,” kata Yudi.
“Didmobilisir atau atas kesadaran sendiri, kehadiran masyarakat bisa menjadi indikasi popularitas seseorang,” kata Heri.
“Saya sependapat dengan para pengamat bahwa popularitas dan elektabilitas tak selamanya selaras dengan perolehan suara. Dalam pilpres dan pilkada, banyak kandidat yang elektabilitasnya tinggi, tetapi jeblok saat pemilihan,” jelas mas Bro.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Yudi.
“Banyak faktor penyebabnya. Suka belum tentu dipilih, Sama seperti kita, suka sama seseorang, tapi belum tentu dipilih sebagai istri kan,” canda Heri.
“Kalau pada pemilu 2029, PSI lolos ke parlemen, indikasi Jokowi memiliki pengaruh besar, safari Jokowi berhasil mendulang suara,” kata mas Bro.
“Bisa juga kalau ambang parlemen ditiadakan, tanpa perlu safari pun semua parpol peserta pemilu akan masuk parlemen,” kata Yudi.
“Tentunya kehendak parpol sebatas masuk parlemen,tetapi sedapat mungkin menguasai parlemen,” kata Heri.
“Itulah perlunya safari politik dan kampanye.”