JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Persaingan pasar obat herbal masuk angin berubah menjadi panggung “perang bintang” film legendaris Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Dua merek besar, Antangin JRG dan Tolak Angin, saling beradu narasi menggunakan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra sebagai celebrity endorser.
Namun, di balik adu pesona bintang sinema ini, tampaknya terkandung strategi komunikasi untuk menutupi kelemahan dan krisis reputasi yang pernah menimpa merek tersebut.
Antangin JRG lebih dulu mengambil langkah dengan merilis iklan bernuansa komedi thriller yang dibintangi Dian Sastrowardoyo. Iklan ini menormalisasi masuk angin sebagai pengalaman manusiawi yang bisa diselesaikan dengan hangat dan elegan.
Tak lama berselang, pada Mei 2026, Tolak Angin membalas dengan menggandeng Nicholas Saputra. Iklan bertema “Dari Indonesia untuk Dunia” ini tidak sekadar bicara soal gejala fisik masuk angin seperti perut kembung dan mual, tetapi juga mengajak penonton untuk tidak mudah terbawa angin informasi menyesatkan—sebuah pesan yang terasa relevan di tengah badai isu yang baru menimpa merek ini.
Baca Juga: Siapa Noa van der Hoeven? Calon Istri Rafael Struick dengan Karier Mentereng
Narasi iklan “melawan angin” yang diperankan Nicholas Saputra ini sebenarnya dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan Sido Muncul terhadap krisis reputasi yang menghantam Tolak Angin awal tahun ini.
Pada Januari 2026, media sosial dihebohkan oleh isu yang mengeklaim kandungan eugenol (ekstrak daun cengkeh) dalam Tolak Angin dapat merusak lambung. Meskipun Sido Muncul mencoba menepisnya, isu tersebut tak ayal menciptakan kebimbangan di kalangan konsumen, terutama mereka yang menderita GERD.
Krisis eugenol bukanlah badai pertama yang menerpa Tolak Angin. Jejak rekam kontroversi kandungan produk ini cukup panjang. Pada 2015, produk Tolak Angin yang dijual di California, Amerika Serikat, sempat ditempeli label “Prop 65 Warning”.
Ini karena otoritas keamanan pangan setempat sempat menduga adanya kandungan logam berat mematikan di dalam produk tersebut. Uji laboratorium di National Food Lab California pada akhirnya membuktikan produk tersebut aman dan labelnya pun dicopot.
Baca Juga: Setir Terasa Berat dan Mobil Sulit Dikendalikan? Bisa Jadi Rack Steer Bermasalah
Namun, insiden ini sempat mencoreng nama baik perusahaan di mata publik internasional. Selain eugenol, penggunaan bahan seperti kayu angin (Usnea barbata) dan kayu ules juga kerap memicu perdebatan di media sosial mengenai efek samping penggunaannya dalam jangka panjang.
Dalam konteks inilah, penggunaan figur populer, seperti Nicholas Saputra, menjadi langkah taktis. Citra Nicholas yang selektif, berintegritas, dan lekat dengan advokasi lingkungan diharapkan mampu menjadi perisai kredibilitas.
“Nicholas ini orangnya sangat hati-hati. Kita tahu sendiri image yang dijaga, lalu selalu menjaga integritas sebagai aktor,” jelas Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani, kepada media pada 19 Mei 2026.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, yang secara tersirat menyinggung krisis hoaks eugenol saat peluncuran kampanye tersebut. “Kita ini hidup di tengah media sosial yang satu hari berita-beritanya bisa membuat kita roboh karena berita hoaks,” ungkap Irwan.
Pada akhirnya, perang bintang AADC di layar kaca ini menunjukkan bahwa celebrity endorser bukan sekadar alat pendongkrak penjualan. Bagi merek herbal yang rentan terhadap isu kesehatan dan keamanan bahan baku, sosok seperti Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo adalah benteng pertahanan narasi.
Seperti dicatat oleh pengulas iklan Ad Nut dari Campaign Indonesia, “Ini bukan hanya perang produk. Ini perang cara memandang angin: apakah ia harus dikeluarkan… atau dilawan.” Dan bagi Tolak Angin, angin yang harus dilawan tampaknya juga adalah badai krisis reputasinya sendiri.