POSKOTA.CO.ID - Keputusan Gregoria Mariska Tunjung untuk mengundurkan diri dari Pelatnas menjadi kabar yang mengejutkan bagi dunia bulu tangkis Indonesia.
Atlet yang selama ini dikenal sebagai andalan tunggal putri Indonesia tersebut resmi memilih meninggalkan pusat pelatihan nasional setelah lebih dari satu dekade membela Merah Putih di berbagai ajang internasional.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) yang menyatakan telah menerima sekaligus menghormati keputusan Gregoria untuk tidak lagi menjadi bagian dari Pelatnas.
Nama Gregoria sendiri selama ini memang identik dengan kebangkitan sektor tunggal putri Indonesia di level dunia.
Di tengah persaingan ketat bulu tangkis internasional yang didominasi pemain-pemain asal Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, hingga Thailand, Gregoria mampu tampil konsisten dan menjaga nama Indonesia tetap diperhitungkan.
Puncak karier Gregoria terjadi ketika dirinya sukses menembus peringkat enam dunia, posisi tertinggi sepanjang perjalanan profesionalnya sebagai atlet bulu tangkis.
Tidak hanya itu, Gregoria juga berhasil mengukir sejarah penting dengan menyumbangkan medali perunggu bagi Indonesia di ajang Olimpiade Paris 2024.
Lantas, kenapa Gregoria memutuskan mundur dari Pelatnas? Berikut penjelasan resmi dari PBSI.
Baca Juga: Dugaan Perselingkuhan Lewat ChatGPT Viral, Ini Cara Kerjanya
Kenapa Gregoria Mariska Tunjung Mundur dari Pelatnas?
Gregoria Mariska Tunjung diketahui tengah berjuang memulihkan kondisi kesehatannya setelah mengalami gangguan vertigo yang cukup memengaruhi performa di lapangan.
Dalam beberapa bulan terakhir, performa Gregoria sendiri memang mengalami penurunan.
Pebulu tangkis yang akrab disapa Jorji itu juga beberapa kali gagal melangkah jauh di turnamen internasional dan bahkan harus absen dari sejumlah kompetisi penting dunia.
Kondisi tersebut membuat Gregoria kesulitan tampil dalam performa terbaiknya. Vertigo yang diderita tidak hanya mengganggu fisik, tetapi juga memengaruhi kesiapan mental dan konsistensi saat bertanding di level elite dunia.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kondisi atletnya, PBSI kemudian mengajukan protected ranking kepada federasi bulu tangkis dunia atau Badminton World Federation.
Langkah tersebut dilakukan agar posisi ranking dunia Gregoria tidak mengalami penurunan drastis akibat absennya dari berbagai turnamen.
Dengan disetujuinya protected ranking tersebut, Gregoria memiliki hak untuk menggunakan peringkat terlindungi saat melakukan pendaftaran turnamen BWF.
Kebijakan protected ranking sendiri biasa diberikan kepada atlet yang harus menepi dalam jangka waktu tertentu karena cedera maupun kondisi medis lainnya.
Tujuannya untuk menjaga peluang atlet tetap dapat tampil di turnamen elite setelah kembali pulih.
“Kondisi kesehatan Gregoria yang masih dalam proses pemulihan dari vertigo menjadi alasan utama pengunduran dirinya. Hingga saat ini, Gregoria merasa belum pulih sepenuhnya dan belum memiliki kepercayaan diri untuk kembali bertanding,” demikian keterangan tertulis dari PBSI.
Baca Juga: Erin Taulany Disorot, Dugaan Aniaya ART hingga Tahan Gaji Viral di Threads
Profil Gregoria Mariska Tunjung
Gregoria Mariska Tunjung lahir di Wonogiri pada 11 Agustus 1999 dari pasangan Gregorius Maryanto dan Fransiska Romana Dwi Astuti.
Sejak kecil, Gregoria sudah menunjukkan minat besar terhadap olahraga bulu tangkis dan mulai bermain sejak usia tujuh tahun.
Isteri dari Mikha Angelo itu mengawali karier sebagai atlet bulu tangkis di klub Mutiara Cardinal Bandung.
Dari klub tersebut, kemampuan Gregoria terus berkembang hingga menjadi salah satu pemain muda potensial Indonesia.
Gregoria juga dikenal sebagai pengagum legenda tenis dunia Roger Federer. Semangat juang dan ketenangan Federer di lapangan disebut menjadi inspirasi bagi Gregoria dalam menjalani karier sebagai atlet profesional.
Pada tahun 2014, Gregoria berhasil menembus Pelatnas PBSI saat usianya baru menginjak 15 tahun.
Kesempatan tersebut diraih berkat penampilan impresifnya di ajang Sirkuit Nasional 2013.
Masuknya Gregoria ke Pelatnas menjadi awal perjalanan panjangnya di level internasional.
Sejak saat itu, namanya mulai diperhitungkan sebagai calon penerus tunggal putri Indonesia.
Kesuksesan Gregoria terus berlanjut di level senior. Ia berhasil menjuarai Kumamoto Masters Japan 2023 yang merupakan turnamen level Super 300.
Tidak hanya itu, Gregoria juga sukses menjadi juara Spain Masters 2023 yang memiliki level serupa.
Dua gelar tersebut menjadi bukti bahwa Gregoria mampu bersaing dengan pemain elite dunia.