Oleh :Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – “Sudah dengar nggak, lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI lagi menjadi perbincangan publik?” tanya bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Bukan dengar lagi, malah melalui kolom ini, 4 Mei 2026, kita obrolin Ketua MPR RI, Ahmad Muzani ketika membuka lomba LCC tingkat Sumatera Selatan, di Palembang, Sabtu, 2 Mei 2026,” kata Yudi.
“Bahkan, Pak Muzani memompa semangat para pelajar agar menjadi generasi digital yang berakhlak, yang mampu menggunakan teknologi untuk mempersatukan, bukan memecah belah. Satu lagi, berani bermimpi besar dengan langkah realistis,”lanjut Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyeriusi Hantavirus
“Kalau itu sih sudah tayang. Ini soal final lomba Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) tengah diperbincangkan publik, bukan decak kagum atas pelaksanaan lomba, tapi jawaban dewan juri yang menuai polemik,” ujar Heri.
Ramai diberitakan, dari video yang beredar pada sesi jawaban rebutan, menunjukkan jawaban regu C oleh dewan juri, disalahkan. Sementara jawaban yang sama disampaikan oleh regu berikutnya (B), dibenarkan.
Regu C pun protes. Malah Regu C mohon agar dewan juri meminta pandangan dari yang lain, penonton misalnya, untuk memastikan apakah jawaban yang diberikan sama dengan Regu B atau tidak.
Respons dewan juri yang bersikukuh bahwa keputusan tetap ada dewan juri itulah yang menuai beragam kritik publik.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Siapa Inisiator Tak Soal, Terpenting RUU Pemilu Segera Dibahas
“Yang dipersoalkan jawaban benar disalahkan, juga respons dewan juri yang kurang edukatif. Padahal tujuan lomba tak lepas dari edukasi, terlebih LCC empat pilar di dalamnya terdapat nilai – nilai luhur Pancasila,” , jelas Heri.
“Edukasi tak hanya secara tekstual, yang lebih utama melalui pengamalan dan keteladanan dalam menghargai perbedaan, menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan mufakat dengan tidak memaksakan kehendak sebagaimana kandungan sila keempat falsafah bangsa kita,” urai mas Bro.
“Tapi yang namanya lomba, keputusan ada di dewan juri, Bro?,” kata Yudi.
“Tidaklah salah, tapi begitu muncul protes hendaknya direspons secara bijak, bukan mengedepankan kewenangan. Misalnya minta masukan pihak lain, seperti tim peninjau sehingga hasil keputusan lebih dapat dipertanggungjawabkan secara moral, “ ujar mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Bermimpilah Setinggi Langit
“Kasus ini menjadi pembelajaran. Tak kurang, MPR RI telah memohon maaf atas kesalahan dalam penilaian dan akan mengevaluasi total kinerja dewan juri dan sistem perlombaan,” kata Heri.
“Setuju kesalahan bukanlah aib yang harus disembunyikan, tetapi keberanian mengakui kesalahan, kemudian melakukan perbaikan,” kata Yudi.
“Semoga ke depan menjadi lebih baik lagi. Bukankah pepatah mengatakan: pengalaman adalah guru terbaik, dengan pengalaman akan menjadi lebih hebat dan bermartabat,” kata mas Bro.