GAMBIR, POSKOTA.CO.ID - Film dokumenter All That Separates Us Is Distance hadir di Indonesia dengan menyoroti kerasnya perjuangan nelayan dalam mencari nafkah di tengah risiko tinggi di laut.
Karya ini mengangkat kisah nyata para nelayan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menggantungkan hidupnya pada laut demi keluarga dan komunitas.
Diproduksi atas inisiatif Lloyd's Register Foundation, film ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar, selain Ghana dan Inggris.
Melalui pendekatan storytelling, penonton diajak melihat langsung realitas kehidupan nelayan, mulai dari tantangan di laut hingga dinamika kehidupan di darat.
Baca Juga: Sinopsis Ghost in the Cell, Film Horor-Sci-Fi Baru dari Joko Anwar
Head of Research on Maritime Law, Policy, and Governance dari Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI), Setyawati Fitrianggraeni mengatakan bahwa kisah dalam film ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam aktivitas melaut.
Karena itu, pihaknya para nelayan bersama-sama untuk mewujudkan ekosistem maritim yang lebih selamat dan beretika.
"Kami percaya bahwa kerangka hukum dan tata kelola mencapai efektivitas tertingginya ketika memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan setiap individu yang bergantung pada laut,” ujar Setyawati, saat ditemui di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Mei 2026.
Film ini menampilkan sosok M. Nurafandi, nelayan asal Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat yang menjadi representasi perjuangan nelayan Indonesia.
Baca Juga: Raline Shah Resmi Perankan Milea di Film Dilan ITB 1997, Ini Bocoran Teasernya!
Ia menggambarkan bagaimana pekerjaan tersebut penuh tantangan, namun tetap dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Tentunya kami sangat senang sekali berperan di film dokumenter ini. Jadi di film ini saya menyampaikan pesan kepada masyarakat, pengalaman kami melaut,” kata pria yang akrab disapa Dede Sinar tersebut.
Dede mengungkapkan bahwa kehidupan nelayan tidak lepas dari berbagai rasa, mulai dari pahitnya kesulitan hingga manisnya hasil tangkapan yang menjadi sumber penghidupan.
Ia mengaku sudah melaut sejak lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2003 silam.
“Kami sudah merasakan bagaimana rasanya air laut itu asin dan bagaimana rasanya manisnya hasil laut, dan bagaimana pahitnya susahnya di laut, itu sudah kami rasakan,” tutur Dede.
Head of Maritime Systems Lloyd’s Register Foundation, Olivia Swift, menilai penting untuk menghadirkan sisi kemanusiaan dalam cerita nelayan yang selama ini kerap dipandang hanya dari aspek risiko.
Karena itu, ia sangat mengapresiasi penayangan film dokumenter yang menceritakan perjuangan nelayan, terutama di Indonesia selama mencari nafkah.
“Pemberitaan tentang nelayan sering berbicara soal risiko, tapi di balik itu ada manusia, dengan harapan, keluarga, dan komunitas. Sangat penting untuk menceritakan kisah mereka dan membiarkan suara mereka didengar,” katanya.
Koordinator International Fund for Fishing Safety (IFFS), Alan McCulla, menambahkan bahwa para nelayan di berbagai negara memiliki tujuan yang sama meski berasal dari latar belakang berbeda.
Baginya, secara global, profesi nelayan termasuk salah satu pekerjaan paling berbahaya, dengan puluhan ribu kematian setiap tahun.
“Ada ikatan antara nelayan di Indonesia, Ghana, dan Inggris. Satu-satunya yang memisahkan mereka adalah jarak. Pada akhirnya, tujuannya adalah menyelamatkan jiwa, melindungi keluarga, dan komunitas,” jelas Alan.