KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Kecelakaan maut tabrakan Kerera Api (KA) Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur perlahan mulai menemukan titik terang.
Akibat kecelakaan itu, hingga saat ini sebanyak 15 orang penumpang harus kehilangan nyawa.
"Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik. Di mana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera," tutur Kepala Seksi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Komisaris Polisi Sandhi Wiedyanoe kepada awak media, Rabu, 29 April 2026.
Menurut Sandhi, itu diduga dipicu kecelakaan pertama yang melibatkan sebuah taksi listrik GreenSM Indonesia yang mendadak berhenti karena gangguan kelistrikan saat melintas di perlintasan Ampera.
Baca Juga: Kisah Pilu Nuryati, Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Hendak Jenguk Anak Sakit di Cikarang
Sehingga taksi yang “nangkring” di atas rel membuat jalur terganggu, sementara KRL lain dari satu arah masih tertahan di stasiun.
"Di saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dan tabrakan pun terjadi. Benturan keras itu tak hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga mengacaukan perjalanan kereta lain di lintasan tersebut," jelas Sandhi.
Sementara itu, lanjut Sandhi, sopir taksi dilaporkan selamat meski sempat tertemper kereta. Saat ini, yang bersangkutan diamankan oleh Polres Metro Bekasi Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait insiden tersebut.
Namun hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari GreenSM Indonesia maupun sopirnya terkait korsleting listrik maut tersebut.
Baca Juga: Update Kecelakaan Kereta di Bekasi: Korban Tersebar di 11 RS, Proses Identifikasi Masih Berjalan
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan kronologi awal kejadian tersebut.
Tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur bermula dari insiden sebuah kendaraan, dalam hal ini taksi listrik yang mengalami mogok di perlintasan sebidang. Akibatnya, memicu rangkaian kejadian beruntun hingga berujung kecelakaan besar.
Insiden pertama terjadi ketika KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper sebuah taksi listrik GreenSM di perlintasan sebidang JPL 85.
Benturan ini menyebabkan perjalanan KRL terganggu dan rangkaian tidak dapat melanjutkan operasional secara normal.
"Saya sudah minta Dirjen Perhubungan Darat untuk bertemu dengan pengelola taksi hijau tersebut untuk melakukan evaluasi. Mudah-mudahan tadi kalo jadi hari ini mestinya," kata Dudy.