"Harapannya business to government ini bisa kita lakukan dengan creative financing atau skema pembangunan yang tidak membebani APBD saja," ucapnya.
"Artinya, tanpa APBD kita bisa dengan swasta lewat kemitraan. Tetapi tentu ini perlu dibahas dalam satu rumusan kerja sama yang lebih formal," tambah Iin.
Secara umum teknologi tersebut tidak melakukan pembakaran langsung, sehingga dinilai ramah lingkungan dan mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
Baca Juga: Guru SD Tewas dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi, Disdik Jakarta Siapkan Bantuan
Adapun cara kerjanya, sampah plastik dimasukkan ke dalam reaktor (pirolizer), lalu dipanaskan tanpa oksigen sehingga rantai polimer terputus dan berubah menjadi uap.
Nantinya, uap yang didinginkan akan menghasilkan cairan (minyak) dan gas. Suhunya bisa mencapai 400-700 derajat celcius, jadi tidak terjadi pembakaran langsung, melainkan melalui perambatan panas.
Khusus sampah organik, prosesnya bisa 1,5 jam untuk 30 ton sampah. Teknologi pirolisis ini pun diharapkan bisa digunakan untuk mengatasi masalah sampah di wilayah Jakarta Barat.
Diketahui, Jakarta Barat masih dihadapkan pada tingginya timbulan sampah, yakni sekitar 807.966 ton per tahun. Namun, hanya 212.450 ton atau sekitar 26 persen yang dimanfaatkan kembali setiap tahun.
Pemkot Jakbar pun telah melakukan sejumlah upaya, terutama sosialisasi pemilhan sampah serta penataan ulang tempat penampungan sementara sebagai solusi.
Targetnya, hanya sekitar 30 persen residu sampah yang diangkut ke Bantar Gebang, sementara 70 persen lainnya diolah kembali. (pan)
