Meski memiliki sumber daya besar, Beky mengakui PMI DKI Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya gedung baru PMI yang belum sepenuhnya bisa ditempati, sehingga koordinasi antarbidang belum berjalan maksimal.
“Tantangan pertama karena gedungnya belum bisa kita tempati. Jadi koordinasi antarbidang itu masih belum optimal karena masih terpisah-pisah kantornya,” kata Beky.
Tantangan lainnya adalah kebutuhan biaya operasional yang terus meningkat serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia ingin seluruh pengurus dan staf PMI terus dibekali kemampuan baru agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Berikutnya adalah SDM. Kita ingin meningkatkan SDM dari kepengurusan dan juga staf kemarkasan. Mereka ini terus kita bekali dengan berbagai keterampilan agar bisa menyesuaikan kebutuhan PMI ke depan,” tuturnya.
Saat ini PMI DKI Jakarta memiliki kekuatan personel yang besar. Beky menyebut jumlah pegawai mencapai hampir 650 orang di seluruh Jakarta, sedangkan jumlah relawan lebih dari 40 ribu orang.
“Kalau personilnya, pegawai itu hampir 650-an. Kalau relawannya 40.000 lebih,” ungkapnya.
Di luar dunia organisasi sosial, Beky juga memiliki pengalaman panjang di dunia media. Ia pernah berkarier selama 23 tahun di SCTV dan menempati sejumlah posisi strategis, termasuk menjadi Kepala Koresponden seluruh Indonesia. Pengalaman itu disebut sangat membantu dalam memimpin PMI.
“Saya pernah lama di SCTV, 23 tahun. Pernah juga jadi Kepala Koresponden seluruh Indonesia. Itu membantu pengalaman untuk mengorganisasikan PMI,” katanya.
Menurut Beky, pengalaman sebagai jurnalis dan pengelola media membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbiasa menghadapi situasi sulit, termasuk konflik dan bencana.
Kini, di usia yang matang, Beky memandang kepemimpinannya di PMI sebagai ladang pengabdian. Dengan bekal pengalaman di organisasi, kebudayaan, media, dan kemanusiaan, ia ingin membawa PMI DKI Jakarta menjadi organisasi yang semakin profesional, responsif, dan hadir nyata bagi masyarakat. (cr-4)
