Pameran sastra bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” pada Kamis, 23 April 2026, di Galeri PDS H.B. Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA RAYA

Pameran Sastra Digelar di Taman Ismail Marzuki, Ini yang Ditampilkan

Kamis 23 Apr 2026, 20:27 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Perpustakaan Jakarta, dan Pusat Dokumen Sastra (PDS) H.B. Jassin secara resmi membuka pameran sastra bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” pada Kamis, 23 April 2026, di Galeri PDS H.B. Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pameran ini berlangsung hingga 24 Mei 2026 dan terbuka untuk publik sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap khazanah sastra Indonesia.

Pameran yang diinisiasi oleh Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin sebagai institusi yang memiliki mandat dalam dokumentasi, pelestarian, dan pengembangan literasi, dengan melibatkan tim kurator yang dipimpin Esha Tegar Putra.

Melalui pameran ini, publik diajak untuk memahami tidak hanya apa itu Horison dan bagaimana perannya dalam membentuk lanskap sastra Indonesia, tetapi juga mengapa keberadaan arsip, kurasi, dan ingatan menjadi krusial dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.

Baca Juga: Pameran Laboratorium Terbesar Digelar, Lab Indonesia 2026 Targetkan 15 Ribu Pengunjung

Alih-alih menyajikan sejarah secara utuh dan linear, pameran ini mengedepankan pendekatan kuratorial yang fragmentaris. Pameran menghadirkan potongan-potongan peristiwa, gagasan, dan dinamika redaksional yang membentuk Horison sejak pertama kali terbit pada 1966.

Dalam proses kurasinya, tim kurator menelaah sekitar 360 edisi majalah Horison dari koleksi PDS H.B. Jassin, lalu memilih karya-karya cerpen dan puisi yang merepresentasikan semangat dan lanskap estetik Horison.

Selain itu, lebih dari 30 ilustrasi yang terbit dalam rentang 1966 hingga 1990 turut dikurasi untuk menunjukkan perkembangan visual dan dialog antara teks dan gambar dalam majalah ini.

Adapun untuk memperkaya konteks, pameran ini turut memanfaatkan arsip foto dari Dewan Kesenian Jakarta.

Baca Juga: Pemprov Sajikan Jakarta Pameran Ramadhan, Hadirkan Light Festival hingga Pawai Ogoh-Ogoh

Mengusung tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, pameran ini berangkat dari kesadaran bahwa sejarah sastra tidak hanya terdiri dari karya dan nama yang bertahan dalam kanon, tetapi juga dari berbagai kemungkinan yang tidak sempat muncul ke permukaan.

Setiap karya yang terbit selalu menyisakan karya yang tidak terbit. Setiap keputusan redaksi mengandung proses seleksi yang sekaligus menenggelamkan.

Dalam konteks inilah, pameran ini menjadi ruang refleksi atas kerja kurasi, dinamika estetika, serta relasi antara sastra, kekuasaan, dan masyarakat.

Pengunjung diajak melihat Horison bukan sekadar sebagai majalah, melainkan sebagai ekosistem gagasan yang hidup. Ekosistem ini melibatkan penulis, redaktur, ilustrator, pembaca, hingga konteks sosial-politik yang melingkupinya.

Baca Juga: Melihat Pameran Artefak Rasulullah dan Sahabat di Pakansari, Terbesar dan Gratis

Secara penyajian, pameran ini dibangun melalui sejumlah zona tematik yang memungkinkan pengunjung menelusuri perjalanan Horison secara berlapis.

Zona tersebut mencakup linimasa perjalanan majalah sejak 1966 hingga transformasi ke medium digital, dokumentasi dewan redaksi lintas generasi, konteks Angkatan ‘66 dan peran H.B. Jassin, hingga eksplorasi visual melalui ilustrasi dan desain sampul.

Selain itu, pengunjung juga dapat mengakses arsip audio berupa rekaman pembacaan puisi oleh para penyair. Pengunjung juga dapat melihat bagaimana evolusi estetika dan medium Horison berkembang seiring perubahan zaman.

Keseluruhan zonasi ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang tidak hanya informatif, tetapi juga imersif dan reflektif terhadap perjalanan sastra Indonesia. Kegiatan pembukaan pameran dirancang sebagai sebuah peristiwa kebudayaan yang memadukan unsur performatif dan reflektif.

Acara diawali dengan registrasi dan pembukaan oleh pembawa acara yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Rangkaian acara kemudian diisi dengan penampilan musikalisasi puisi Horison, pengantar kuratorial oleh tim kurator, serta laporan dari Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin, Diki Lukman Hakim.

Selanjutnya ditampilkan parade Angkatan ‘66 dari Rawamangun Concept yang memadukan tafsir pembacaan dan musikalitas puisi Horison.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Sukono menegaskan, pameran ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi publik dalam merawat memori kolektif bangsa melalui sastra.

Ia menyampaikan, 60 tahun perjalanan Horison mencerminkan bentangan sejarah pemikiran, pergulatan estetik, dan jejak intelektual yang membentuk wajah sastra Indonesia.

"Tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam” dipandang sebagai refleksi atas dialektika antara yang diingat dan yang dilupakan, sekaligus penegasan bahwa setiap karya tetap memiliki nilai sebagai artefak kebudayaan," kata Nasruddin dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 April 2026.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat dokumentasi, mendorong lahirnya generasi penulis baru, serta memperluas akses masyarakat terhadap sastra melalui inovasi layanan, baik fisik maupun digital.

Sementara itu, Pemimpim Redaksi Horison Jamal D. Rahman dalam pidatonya, menempatkan pameran ini sebagai ruang kejujuran sejarah. Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra.

Ia menyampaikan bahwa di balik setiap karya yang terbit terdapat lautan naskah dan mimpi yang tenggelam. Pengakuan terhadap hal tersebut merupakan bagian dari integritas kebudayaan.

"Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra," kata Jamal.

Jamal juga menegaskan bahwa Horison dan H.B. Jassin mewariskan prinsip penting dalam menjaga bahasa Indonesia. Bahasa boleh bersifat profan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak boleh kehilangan kebersihan, kejujuran, dan martabatnya.

Dalam refleksinya, ia melihat pameran ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia juga menyebut bahwa pameran ini membuka kemungkinan baru bagi keberlanjutan Horison di tengah perubahan lanskap media dan budaya.

“Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra," kata Jamal.

Melalui pameran ini, Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin tidak hanya menghadirkan arsip sebagai objek yang dipamerkan.

Arsip dihadirkan sebagai medium dialog yang menghubungkan generasi, membuka ruang tafsir, dan mendorong keterlibatan publik dalam membaca ulang sejarah sastra Indonesia.

Pameran ini diharapkan menjadi ruang yang tidak hanya mengenang, tetapi juga menumbuhkan kembali semangat berkarya, memperkuat literasi, serta memperluas kesadaran akan pentingnya menjaga bahasa dan kebudayaan di tengah perubahan zaman.

Pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” dapat dikunjungi oleh masyarakat umum mulai 23 April hingga 24 Mei 2026 di Galeri PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta selama jam operasional.

Penyelenggaraan pameran ini menjadi penanda bahwa arsip, sastra, dan ingatan kolektif tidak pernah berhenti bekerja, melainkan terus hidup, dibaca ulang, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tags:
DKI Jakarta Perpustakaan JakartaPDS HB Jassinpameran sastraTaman Ismail Marzuki

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor