JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang kian mendominasi di perairan ibu kota.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP RI, Haeru Rahayu, mengatakan bahwa lonjakan populasi ikan sapu-sapu sudah berada pada tahap mengkhawatirkan sehingga perlu dikendalikan secara serius dan berkelanjutan.
"Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat tadi sebagaimana Pak Gubernur lakukan," ujar Haeru di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 17 April 2026.
Menurut Haeru, hingga saat ini belum ditemukan cara pengendalian yang benar-benar ideal dari sisi biologis maupun kimia.
Baca Juga: Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Makin Dominan, Pemprov DKI Siapkan Penanganan Rutin
Ia menjelaskan, pendekatan biologis seperti menghadirkan predator alami justru berpotensi menimbulkan masalah baru dalam ekosistem.
"Secara biologis kita belum ada predator yang langsung memakan, kalaupun ada nanti akan menjadi persoalan selanjutnya. Secara kimia, ini juga akan punya persoalan dengan lingkungan," ucap Haeru.
Karena itu, dikatakan Haeru, metode konvensional berupa penangkapan langsung di lapangan dinilai sebagai langkah paling efektif yang bisa dilakukan saat ini untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu.
"Maka yang paling efektif hingga detik ini adalah dengan metode konvensional seperti ini," kata Haeru.
Baca Juga: Populasi Ikan Sapu-Sapu Tak Terkendali, Pemprov DKI Siapkan Tim Penanganan Khusus
Lebih lanjut, Haeru mengungkapkan bahwa KKP saat ini tengah menyiapkan penguatan regulasi terkait pengendalian ikan invasif.
Ia menyebutkan, aturan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 yang kini sedang dalam proses revisi agar lebih aplikatif.
"Kami siap berkoordinasi dengan semua jajaran termasuk Pemda dan stakeholders. Mudah-mudahan Jakarta tetap ekosistemnya terjaga dengan baik," ungkap dia.
Terkait pemanfaatan ikan sapu-sapu, Haeru menyebutkan bahwa ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, salah satunya sebagai bahan pupuk organik.
Baca Juga: Aksi Serentak Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Populasi Capai Lebih dari 60 Persen
Selain itu, ikan tersebut juga sempat diusulkan untuk diolah menjadi tepung ikan.
"Cuma ada cumanya, kami memiliki kekhawatiran yang cukup tinggi residunya cukup tinggi.
Kalau jadikan tepung ikan kemudian dimakan oleh ikan, ikannya dimakan oleh manusia, maka punya potensi untuk apa masuk ke manusia," ujarnya.
Haeru juga menyinggung fenomena serupa di daerah lain, seperti di Danau Toba yang kini didominasi ikan invasif jenis red devil.
Baca Juga: Pramono Dukung Penanganan Ikan Sapu-Sapu Dilakukan Secara Masif
Ia menyebut, kondisi tersebut telah mengubah hasil tangkapan nelayan secara drastis dalam dua dekade terakhir.
"Sehingga saat ini kami bekerja sama dengan BRIN untuk bisa memanfaatkan agar bisa lebih apa namanya utilize begitu. Salah satunya adalah untuk bahan tepung ikan," ucapnya.
"Kalau di Danau Toba relatif lebih baik kualitas airnya dibandingkan dengan di selokan atau di kanal-kanal yang seperti ini," sambungnya. (cr-4).