JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Jakarta menempati peringkat kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara pada 2026 berdasarkan laporan Global Residence Index. Dalam laporan tersebut, Jakarta mencatat skor keamanan sebesar 0,72, berada di bawah Singapura yang meraih skor sekitar 0,90.
Posisi ini menempatkan Jakarta di atas sejumlah kota besar lain di kawasan, seperti Bangkok dengan skor sekitar 0,65, Kuala Lumpur 0,57, dan Manila 0,41.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, menyambut positif capaian tersebut. Menurutnya, peningkatan keamanan Jakarta didorong oleh berbagai faktor, mulai dari integrasi transportasi publik, digitalisasi layanan, penguatan ruang publik, hingga pengendalian risiko perkotaan.
Ia juga menilai, di bawah kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno, transformasi Jakarta menuju kota global terus berjalan dengan pendekatan yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Polri Bongkar Pabrik Narkoba Zenix di Jakarta Utara dan Semarang, Tiga Tersangka Ditangkap
“Kita tentu senang, tapi tetap harus terus ditingkatkan,” ujar Wa Ode, Rabu, 15 April 2026.
Meski demikian, Wa Ode menyoroti pentingnya peningkatan sektor transportasi publik, khususnya dalam hal konektivitas antarrute dan perluasan akses hingga ke kawasan permukiman warga.
Menurutnya, aspirasi tersebut banyak disampaikan masyarakat saat kegiatan sosialisasi peraturan daerah (sosper), terutama terkait kebutuhan integrasi transportasi agar lebih mudah diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Aspirasi masyarakat itu transportasi harus lebih terkoneksi, terutama moda kecil yang masuk ke lingkungan,” jelasnya.
Baca Juga: Komisi A DPRD DKI Peringatkan Premanisme Tanah Abang Ancam Iklim Investasi Jakarta
Ia mencontohkan pentingnya penguatan jaringan angkutan pengumpan (feeder) seperti JakLingko di kawasan permukiman.
“Misalnya dari Kemayoran ke SMA 1 itu belum tersambung penuh, sehingga warga masih harus berganti moda transportasi. Kalau JakLingko diperbanyak, tentu akan lebih mudah dan nyaman,” ujarnya.
Selain itu, Wa Ode juga menekankan perlunya penambahan armada transportasi umum pada momen tertentu, seperti pertandingan olahraga dan konser.
Menurutnya, peningkatan layanan saat event besar dapat mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik.
Baca Juga: Ketua DPRD Jakarta Nilai Lebaran Betawi Penting untuk Kota Global Berbasis Budaya
Dalam sistem transportasi terintegrasi, layanan seperti Transjakarta disebut menjadi tulang punggung mobilitas warga.
Ia pun mendorong agar Transjakarta terus meningkatkan kenyamanan, aksesibilitas, serta efisiensi perjalanan.
“Kalau ada pertandingan atau konser, armada harus ditambah supaya masyarakat lebih nyaman menggunakan transportasi umum,” pungkasnya. (cr-4).