JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Predikat Jakarta sebagai kota terpadat di dunia versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 41-42 juta jiwa bukan sekadar angka statistik.
Di balik data tersebut, ada realitas yang dirasakan langsung oleh warga, terutama mereka yang tinggal di kawasan permukiman padat seperti di Kecamatan Johar Baru.
Di gang-gang sempit yang dipenuhi rumah berdempetan, aktivitas warga nyaris tak pernah berhenti. Suara kendaraan, percakapan tetangga, hingga aktivitas harian yang saling berdekatan menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dihindari.
Bagi Satryo 24 tahun, kondisi ini sudah menjadi keseharian yang melelahkan.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pelaku Begal Petugas Damkar di Gambir
“Kerasa banget setiap hari dengan padatnya pemukiman, ngerasa sumpek sama berisik. Bisa tenang juga itu paling jam istirahat saat siang hari atau tengah malam, itu pun di hari-hari tertentu,” ujar Satryo saat ditemui, Selasa, 14 April 2026.
Menurutnya, kepadatan tidak hanya berdampak pada kebisingan, tetapi juga pada kualitas lingkungan.
Minimnya ruang terbuka membuat sirkulasi udara tidak optimal, bahkan sinar matahari sulit masuk ke dalam rumah.
“Masalah utamanya udara dan panas matahari yang masuk itu sedikit ya, karena akibatnya pemukiman yang padat jadi kurang sehat juga,” ucap Satryo.
Baca Juga: Brimob Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Balap Liar di Jaktim, Tiga Motor Disita
Kondisi tersebut membuat banyak warga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam penataan kawasan padat penduduk.
Satryo menilai perbaikan infrastruktur dan lingkungan menjadi hal yang mendesak agar kualitas hidup masyarakat bisa meningkat.
“Harapannya sih pemerintah lebih peduli, benerin infrastruktur terhadap pemukiman padat, terus lingkungan dibikin lebih tertata. Syukur-syukur ada solusi biar tempat tinggal nggak terlalu padat lagi, jadi lebih nyaman buat ditinggalin,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Dimas 30 tahun, warga lainnya yang merasakan dampak kepadatan tidak hanya di lingkungan tempat tinggal, tetapi juga dalam mobilitas sehari-hari.
Baca Juga: Warga Cengkareng Jakbar Tangkap 2 Pelaku Curanmor, Diserahkan ke Polisi Setelah Babak Belur
Baginya, kepadatan penduduk berbanding lurus dengan meningkatnya kemacetan, terutama saat jam sibuk.
“Berasa banget sih, kayak kemacetan pas pagi mau berangkat kerja,” ucap Dimas.
Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penataan kawasan permukiman, tetapi juga memperbaiki sistem transportasi dan pemerataan pembangunan agar beban Jakarta tidak semakin berat.
“Harapannya ya ada solusi supaya nggak makin padat, baik dari transportasi maupun pemerataan pembangunan,” katanya.
Kondisi yang dirasakan warga ini menggambarkan sisi lain dari Jakarta sebagai kota megapolitan. Di satu sisi, kota ini menjadi pusat ekonomi dan daya tarik bagi banyak orang untuk datang dan mengadu nasib.
Namun di sisi lain, kepadatan yang terus meningkat membawa konsekuensi terhadap kualitas hidup masyarakat, mulai dari lingkungan yang kurang sehat, keterbatasan ruang, hingga tekanan dalam mobilitas sehari-hari.
Predikat sebagai kota terpadat dunia pun akhirnya bukan hanya soal angka, melainkan cerminan dari tantangan besar yang harus dihadapi Jakarta dalam menata ruang hidup warganya agar tetap layak, sehat, dan manusiawi. (cr-4)