POSKOTACOID - Merek fast fashion ternama H&M mengumumkan rencana untuk menutup ratusan gerai mereka secara global pada tahun 2026.
Perusahaan ritel ini dikabarkan bakal menutup sebanyak 160 toko mereka di seluruh dunia secara permanen sepanjang tahun ini.
Sebelumnya, perusahaan diketahui sudah lebih dulu menutup sekitar 163 gerai di berbagai negara yang merupakan bagian dari penyesuaian bisnis.
Penutupan ini merupakan langkah strategis yang diambil perusahaan guna meningkatkan penjualan yang saat ini sudah beralih ke digitalisasi dengan memanfaatkan layanan e-commerce.
Meski begitu, perusahaan mengungkapkan penutupan yang dilakukan sempat menyebabkan penurunan laba pada kuartal I tahun 2026.
"Optimalisasi portofolio toko telah berdampak agak negatif pada penjualan kuartal I-2026 karena penutupan dan pembangunan kembali toko," kata H&M seperti yang ditulis oleh The Sun.
Kabar mengenai H&M tutup di seluruh dunia membuat warganet di Indonesia ikut menyoroti hal tersebut.
Pasalnya, H&M selama ini jadi salah satu ritel fesyen paling populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan banyak digandrungi masyarakat.
Baca Juga: Deretan Brand Fast Fashion yang Harus Dihindari di 2025, Ada H&M hingga ZARA
Siapa Pemilik H&M?

Popularitas H&M yang mampu menguasai pasar fesyen global tak lepas dari kesuksesan sang pendiri ketika memulai mendirikan bisnis ini.
Tak sedikit orang yang mengira bahwa H&M merupakan merek fesyen asal Amerika Serikat. Padahal, H&M merupakan brand fashion asal Swedia.
Nama H&M merupakan singkatan dari Hennez&Mauritz. Banyak orang mungkin menduga jika nama tersebut merupakan gabungan dari nama dua pendirinya.
Padahal, sosok yang berhasil membangun H&M adalah Erling Persson. Adapun, nama Hennez&Mauritz merupakan nama dua toko yang dibeli oleh Erling pada awal ia hendak menjual produk fashion.
Pada 1947, Erling Persson lebih dulu membeli toko Hennez. Lalu, sekitar 21 tahun kemudian, ia membeli toko Mauritz. Ia lalu menggabungkan kedua toko tersebut hingga menjadi sebuah gerai yang diberi nama H&M.
Kemudian, pada 1982 Erling memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai CEO H&M dan digantikan oleh putranya yang bernama Stefan Persson.
Berkat kepemimpinan Stefan, H&M berhasil tumbuh pesat menjadi salah satu merek fesyen paling ternama di dunia dan mampu bersaing dengan sejumlah kompetitornya.
Pada tahun 2020, Stefan Persson memilih mundur dari jabatannya sebagai CEO yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Karl-Persson sebagai generasi ketiga.
Profil Erling Persson
Erling Persson diketahui lahir di sebuah kota kecil bernama Borlänge, yang terletak di Swedia tengah pada 21 Januari 1917.
Latar belakang keluarganya cukup sederhana. Selama masa perang dunia yang menyebabkan krisi ekonomi di mana-mana, keluarga Erling mengelola bisnis penjualan daging hewan.
Untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya, Erling Persson lalu memutuskan untuk pindah ke ibu kota Stockholm pada 1930.
Setelah semua usaha dan kerja keras yang dilakukannya, Erling akhirnya berhasil membuka bisnis fesyen pertamanya, yaitu Hennes pada 1947.