Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbuatan maksiat tetap merupakan tindakan yang sangat disayangkan, terlebih jika dilakukan pada malam yang begitu dimuliakan.
Dosa Bisa Lebih Berat Karena Waktu dan Tempat
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa tingkat keburukan sebuah maksiat bisa bertambah berat tergantung beberapa faktor, seperti siapa pelakunya, kapan dilakukan, dan di mana tempatnya.
Ia memberikan contoh bahwa dosa yang dilakukan oleh orang awam tentu berbeda bobotnya dengan dosa yang dilakukan oleh seorang ulama atau orang berilmu.
“Dosa orang awam tetap buruk, tetapi jika dilakukan oleh orang alim maka jauh lebih buruk,” ujarnya.
Hal yang sama juga berlaku pada dimensi waktu dan tempat. Melakukan dosa di luar bulan Ramadhan tetap merupakan perbuatan tercela, tetapi jika dilakukan di bulan Ramadhan, maka nilainya menjadi lebih berat.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Buka Itikaf di 10 Malam Terakhir Ramadhan 2026, Ini Jadwal Kegiatannya
Apalagi jika maksiat dilakukan pada malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar.
“Itu merupakan kejahatan yang sangat besar,” tegas Buya Yahya.
Kasih Sayang Allah Jangan Dijadikan Alasan Meremehkan Dosa
Dalam penjelasannya, Buya Yahya juga mengingatkan bahwa kasih sayang Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa.
Ia menyebutkan bahwa dalam banyak keadaan, seseorang yang baru berniat melakukan kebaikan sudah bisa dicatat sebagai pahala.
Sebaliknya, niat buruk tidak selalu langsung dicatat sebagai dosa sebelum benar-benar dilakukan.
Meski demikian, sikap meremehkan maksiat tetap tidak dibenarkan.
