POSKOTA.CO.ID - Pakar hukum tata negara Feri Amsari, menjadi sorotan usai terlibat perdebatan panas dengan penggiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda dalam program dialog televisi Rakyat Bersuara.
Program tersebut dipandu oleh jurnalis Aiman Witjaksono dan membahas sejumlah isu geopolitik, serta sejarah hubungan internasional Indonesia.
Setelah peristiwa debat panas tersebut, Feri Amsari turut memberikan tanggapan melalui akun Threads miliknya.
Dalam unggahannya, ia menyoroti gaya bicara Abu Janda yang dinilai tidak pantas disampaikan dalam forum diskusi publik yang disiarkan melalui televisi nasional.
"Saat offair dia ngaku bukan bilang a*jing tapi a*jir. Saya bilang dia bohong. Video ini menjelaskan rusaknya orang ini. TV dan media lain harusnya melarang orang ini dengan keras," jelas Feri dalam unggahannya, seperti dikutip pada Rabu, 11 Maret 2026.
Awal Perdebatan
Sebelum konflik antara Feri Amsari dan Abu Janda memuncak, perdebatan dalam program tersebut lebih dahulu melibatkan eks duta besar Indonesia untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti.
Diskusi yang berlangsung saat itu membahas konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta kaitannya dengan sejarah hubungan internasional Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Ikrar menjelaskan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam proses kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kepentingan geopolitik global pada masa itu.
"Coba anda baca Revolution and Nationalism in Indonesia, tulisan Kahin. Di situ dijelaskan mengapa Amerika turun tangan karena ketakutan bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," kata Ikrar.
Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi oleh Abu Janda yang menilai bahwa Amerika Serikat tetap memiliki kontribusi besar dalam mendorong Belanda untuk meninggalkan Indonesia.
"Betul, karena ada pemberontakan di Madiun itu memang betul. Tapi apapun itu pak, Amerika itu perannya besar pak," ujar Abu Janda.
Perdebatan pun berlanjut dengan saling balas argumentasi mengenai bagaimana peran kekuatan internasional dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia.
Menurut dia, sentimen anti-Amerika Serikat yang berkembang di Indonesia sering kali muncul karena kebencian tanpa melihat sisi lain dari sejarah.
"Intinya sentimen anti Amerika ini luar biasa sekali di negara ini dan semua didasari sama kebencian buta tanpa mencoba untuk mencoba adil seperti yang disarankan Al-Maidah ayat 8," kata dia.
Perdebatan kemudian semakin melebar ketika Feri Amsari menyinggung keputusan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dengan Board of Peace (BOP) yang disebut dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Feri, langkah tersebut menimbulkan pertanyaan etika karena forum tersebut juga melibatkan pihak Israel.
Dirinya menilai, Israel telah melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina.
Feri kemudian mengingatkan, Palestina memiliki hubungan historis dengan Indonesia dalam konteks perjuangan kemerdekaan.
Ia menyebut, Palestina sebagai salah satu pihak yang lebih awal memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 1945.
Selain itu, Feri juga menyinggung tokoh Palestina Muhammad Ali Taher yang disebut memberikan dukungan finansial bagi perjuangan diplomasi Indonesia.
"Kalau tidak ada bangsawan dari Palestina yang menyumbang untuk kemerdekaan bangsa ini, melalui Agus Salim belum tentu juga kita merdeka," ujar Feri.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Abu Janda yang menilai pandangan tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah.
"Utang apaan bangsa kita kemerdekaan Palestina, utang apaan bang? Jangan ngaco," teriak Abu Janda.
"Gue kasih tau ya, biar lo tau. Ada hoax yang bilang katanya, Palestina negara pertama yang ngakui kemerdekaan Indonesia itu hoax," sambungnya.
Menanggapi hal tersebut, Feri Amsari menilai Abu Janda terlalu bersemangat dalam menyampaikan argumen, namun keliru dalam memahami konteks sejarah.
"Semangat betul dengan salahnya. Yang memberikan sumbangan ke pada Agus Salim adalah bangsawan Palestina untuk bergerak di Timut Tengah dalam upaya kampanye Kemerdekaan, itu bukan hoaks" timpal Feri.
Ketegangan dalam diskusi semakin meningkat ketika Abu Janda kembali memotong pembicaraan dengan nada yang dianggap kasar.
Situasi tersebut membuat Feri Amsari meminta moderator untuk mengambil tindakan tegas.
"Saya ingatkan, ini ruang publik, dengan mengungkapkan kekasaran, bang Aiman, omongan seperti itu wajib hukumnya bagi Anda mengusir dia" terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Abu Janda justru menyatakan dirinya siap meninggalkan forum tanpa harus diminta.
"Gak usah lu husir, dengan senang hati, gue pergi" cetus Abu Janda.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, Aiman Witjaksono akhirnya menghentikan perdebatan dan meminta Abu Janda keluar dari ruang dialog.
"Engga boleh, engga boleh, kalau Anda tidak bisa tertib, keluar! Keluar.. Keluar...." ungkap Aiman dengan lantang.
Disamping perdebatan panas itu, tak sedikit yang penasaran mengenai jejak karier dan latar belakang Feri Amsari. Berikut informasi selengkapnya.
Baca Juga: Belum Habis Polemik Ijazah Jokowi, Feri Amsari Soroti Tentang Kepastian Hukum
Feri Amsari Kerja Apa dan Anak Siapa?
Feri Amsari merupakan pria kelahiran Padang pada 2 Oktober 1980. Ia dikenal sebagai seorang aktivis hukum sekaligus akademisi yang banyak menaruh perhatian pada isu konstitusi, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan di Indonesia.
Ketertarikannya pada dunia hukum mulai berkembang sejak menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Di kampus tersebut, Feri Amsari menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum pada tahun 2004.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, dia kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar Master of Laws (LLM).
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2004, Feri Amsari memulai karier profesionalnya di dunia akademik.
Pada tahun yang sama, ia mulai mengabdi sebagai dosen Hukum Tata Negara di Universitas Andalas.
Bidang hukum tata negara kemudian menjadi fokus utama pengajaran, penelitian, dan advokasinya hingga saat ini.
Melalui aktivitas akademik tersebut, Feri Amsari dikenal aktif membahas berbagai persoalan konstitusi serta dinamika demokrasi yang berkembang di Indonesia.
Sejak awal berkarier, Feri Amsari dikenal sebagai akademisi yang tidak membatasi diri hanya pada ruang kelas.
Dia aktif mengaitkan kajian hukum tata negara dengan praktik kekuasaan, dinamika politik, serta berbagai persoalan demokrasi elektoral di Indonesia.
Sebelum dikenal luas sebagai pakar hukum tata negara, Feri Amsari telah aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa.
Dirinya juga tercatat pernah memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Peran strategis Feri Amsari semakin menonjol ketika ia dipercaya memimpin Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas sebagai Direktur pada periode 2017 hingga 2023.
Di bawah kepemimpinannya, PUSaKO berkembang menjadi salah satu pusat kajian konstitusi yang cukup aktif dan berpengaruh di Indonesia.
Lembaga ini kerap terlibat dalam berbagai kajian akademik, advokasi hukum, hingga memberikan pandangan kritis terhadap berbagai kebijakan negara yang berkaitan dengan konstitusi.
Di luar aktivitasnya sebagai dosen, Feri Amsari juga aktif dalam berbagai kegiatan penelitian serta pengembangan kebijakan publik.
Di mana, Feri pernah berperan sebagai peneliti kebijakan, Managing Partner di Themis Indonesia, serta peneliti di PoshDem.
Selain itu, ia juga sempat terlibat dalam Tim Percepatan Reformasi Hukum Kemenko Polhukam.
Nama Feri Amsari semakin dikenal luas oleh publik setelah tampil dalam film dokumenter Dirty Vote yang dirilis pada 11 Februari 2024, beberapa hari menjelang Pemilihan Umum Indonesia 2024.
Dokumenter tersebut membahas dugaan penyalahgunaan instrumen kekuasaan serta berbagai praktik yang dinilai berpotensi merusak integritas pemilu dan demokrasi di Indonesia.
Dalam film tersebut, Feri Amsari tampil bersama dua pakar hukum tata negara lainnya, yakni Bivitri Susanti dan Zainal Arifin Mochtar.
Di luar aktivitas akademik dan advokasinya di bidang hukum, Feri Amsari juga menjalani kehidupan keluarga. Dia diketahui telah menikah dengan seorang perempuan bernama Chitra Afsari.
Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai tiga orang anak yang bernama Kiranaesha Omera, Qotrunada Autumn, dan Shahzain Abdurrahman.
Meski cukup aktif di ruang publik, Feri Amsari relatif jarang menyoroti kehidupan pribadinya secara luas di media. Informasi mengenai keluarganya juga tidak terlalu banyak dipublikasikan.
Hingga kini, tidak banyak informasi yang secara spesifik menyebutkan nama orang tua Feri Amsari di ruang publik.