"Setelah kita proklamasi, kita dijajah lagi sama Belanda. Sampai tahun 49. Yang dikenal dengan agresi Belanda kedua, silahkan cek. Dan itu tidak mudah buat para pahlawan kemerdekaan kita. Karena memang supermasi militer Belanda tuh memang terlalu kuat waktu itu. Bahkan Jendral Sudirman pun hanya bisa melawan Belanda dengan taktik hit and run. Apakah dengan hit and run itu efektif untuk memusir Belanda dari bumi Pertiwi? I don't think so. Tapi tiba-tiba tahun 49, tiba-tiba Belanda mudik. Karena siapa? Karena ditekan Amerika brother," jelas Abu Janda.
Abu Janda juga menyinggung proses diplomasi internasional yang berujung pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949.
Menurut dia, tekanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat turut berperan dalam mendorong Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia.
"Tanpa mengecilkan perjuangan para pahlawan. Tapi kalau Amerika gak turun tangan, kita gak tau sampe kapan Belanda bercokol. Mungkin Belanda tahun 70 masih disini. Mungkin tahun 80 masih disini, kayak di Afrika Selatan," katanya.
Perdebatan kemudian berlanjut ketika Feri Amsari menyoroti langkah Presiden terpilih Prabowo Subianto yang bergabung dengan Board of Peace (BOP) yang disebut didirikan oleh Donald Trump.
Menurut Feri Amsari, hal tersebut menjadi persoalan etika mengingat Israel juga disebut ikut terlibat dalam forum tersebut.
Dirinya juga menyinggung situasi konflik di Palestina yang kerap menjadi perhatian masyarakat Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Feri mengingatkan hubungan historis antara Indonesia dan Palestina.
Lebih lanjut, kata dia, Palestina merupakan salah satu pihak yang memberikan dukungan awal terhadap kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, Feri juga menyinggung sosok Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya dan tokoh media asal Palestina yang disebut memberikan dukungan finansial bagi perjuangan diplomasi Indonesia.
"Kalau tidak ada bangsawan dari Palestina yang menyumbang untuk kemerdekaan bangsa ini, melalui Agus Salim belum tentu juga kita merdeka," jelas Feri Amsari.
Mendengar pernyataan tersebut, Abu Janda langsung bereaksi keras dan menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah.
