Menurutnya, tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya, ditandai dengan munculnya retakan pada bangunan rumah kontrakan, khususnya di bagian dapur.
“Seminggu sebelum longsor memang sudah ada retakan. Retakan juga terlihat di jalanan,” ujar Istiqomah.
Ia menduga longsor terjadi karena kondisi tanah yang berada di area saluran air warga. Air yang merembes serta curah hujan tinggi membuat tanah menjadi lembek hingga akhirnya longsor.
“Retakan itu semakin masuk. Di situ juga ada saluran air warga, mungkin ada rembesan. Tanahnya jadi lembek, akhirnya longsor,” jelasnya.
Istiqomah menambahkan, saat peristiwa longsor terjadi tidak ada penghuni di dalam rumah kontrakan tersebut karena bangunan sudah dikosongkan sebelumnya akibat retakan yang muncul.
“Pas kejadian saya tidak ada di rumah. Memang sudah kami kosongkan karena ada retakan. Sebelumnya yang tinggal di situ saya dan keluarga,” ujarnya.
Adapun rumah kontrakan yang terdampak longsor diketahui berada di bantaran Kali Ciliwung. Di kawasan tersebut terdapat sejumlah rumah warga yang berdiri cukup dekat dengan aliran sungai.
Kondisi ini diduga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya longsor, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
