Menurut Bahlil, kondisi ini menjadi salah satu penyebab ketahanan energi Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.
"Keterbatasan fasilitas penyimpanan BBM menjadi faktor utama rendahnya ketahanan energi kita. Oleh karena itu, pemerintah akan membangun storage baru agar ketahanan stok meningkat hingga 90 hari," bebernya.
Baca Juga: Jaga Pasokan Listrik Warga Bandung Barat, Petugas PLN Berjibaku di Tengah Cuaca Ekstrem
Ketegangan Global Ikut Picu Kekhawatiran Energi
Selain isu stok nasional, kekhawatiran masyarakat juga dipengaruhi situasi geopolitik global yang tengah memanas. Salah satunya terkait ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebutkan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, secara efektif telah ditutup setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Selat tersebut diketahui menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 20 juta barel per hari. Jalur ini juga digunakan untuk pengiriman gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Jika distribusi energi global terganggu, kondisi tersebut berpotensi memicu gejolak pasar energi dunia yang dapat berdampak pada harga minyak dan ketersediaan BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.
