ACEH, POSKOTA.CO.ID - Kepanikan warga dalam membeli bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Kabupaten Aceh Tengah setelah muncul pernyataan terkait kondisi stok BBM nasional. Situasi ini membuat sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dipadati masyarakat yang khawatir akan kemungkinan kelangkaan BBM.
Kondisi tersebut dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebutkan stok BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 20 hari. Pernyataan itu kemudian memicu kekhawatiran masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Aceh Tengah.
Akibatnya, warga mulai membeli BBM dalam jumlah besar sebagai langkah antisipasi. Banyak masyarakat yang datang ke SPBU dengan membawa jeriken untuk menimbun bahan bakar, sehingga antrean kendaraan maupun warga terlihat memanjang.
Melalui unggahan video di akun X @ilhamisback terlihat jelas fenomena panic buying di wilayah Aceh pada, Rabu 4 Maret 2026, Sejumlah SPBU di wilayah Aceh Tengah dipenuhi warga yang ingin memastikan ketersediaan BBM untuk kebutuhan mereka.
Baca Juga: Tak Perlu Khawatir Tinggalkan Motor, Polda Banten Siapkan Penitipan Gratis saat Mudik
Antrean Panjang Warga di SPBU Aceh Tengah
Aksi panic buying terlihat jelas di sejumlah SPBU, salah satunya di SPBU Jalan Lintang, Takengon. Masyarakat datang berbondong-bondong dengan membawa jeriken untuk membeli BBM dalam jumlah banyak.
Kekhawatiran masyarakat diduga dipicu oleh pernyataan terkait keterbatasan cadangan BBM nasional serta minimnya kapasitas penyimpanan energi di Indonesia.
Situasi tersebut membuat antrean panjang tak terhindarkan, bahkan beberapa warga terlihat rela menunggu lama demi mendapatkan bahan bakar.
Pemerintah Akan Tambah Kapasitas Penyimpanan BBM
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kapasitas penyimpanan BBM nasional saat ini masih terbatas. Indonesia hanya memiliki cadangan yang mampu menampung stok sekitar 25 hingga 26 hari.
Untuk memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan baru mulai tahun 2026. Targetnya, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan stok BBM hingga mencapai 90 hari, termasuk dengan pembangunan storage di wilayah Sumatera.
Menurut Bahlil, kondisi ini menjadi salah satu penyebab ketahanan energi Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.
"Keterbatasan fasilitas penyimpanan BBM menjadi faktor utama rendahnya ketahanan energi kita. Oleh karena itu, pemerintah akan membangun storage baru agar ketahanan stok meningkat hingga 90 hari," bebernya.
Baca Juga: Jaga Pasokan Listrik Warga Bandung Barat, Petugas PLN Berjibaku di Tengah Cuaca Ekstrem
Ketegangan Global Ikut Picu Kekhawatiran Energi
Selain isu stok nasional, kekhawatiran masyarakat juga dipengaruhi situasi geopolitik global yang tengah memanas. Salah satunya terkait ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebutkan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, secara efektif telah ditutup setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Selat tersebut diketahui menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 20 juta barel per hari. Jalur ini juga digunakan untuk pengiriman gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Jika distribusi energi global terganggu, kondisi tersebut berpotensi memicu gejolak pasar energi dunia yang dapat berdampak pada harga minyak dan ketersediaan BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.