POSKOTA.CO.ID - Inovasi berbasis kecerdasan buatan kembali lahir dari mahasiswa Indonesia. Seorang mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan sistem AI yang dirancang untuk membantu akses layanan kesehatan mental bagi mahasiswa. Inovasi tersebut bahkan mengantarkan timnya meraih juara pertama dalam kompetisi internasional teknologi.
Mahasiswa bernama Giga dari Program Studi Teknologi Informasi, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM, menciptakan platform bernama UGM-AICare (Aika).
Sistem ini merupakan layanan kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu pengguna mengidentifikasi masalah psikologis sekaligus menghubungkannya dengan psikolog profesional.
Inovasi tersebut berhasil memenangkan kategori “Play Track” dalam kompetisi internasional EDU Chain Hackathon 2025, dengan total hadiah mencapai 250 ribu dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: iPhone 17e Punya Fitur Apa Saja? Ini 6 Spesifikasi yang Mulai Terungkap
Inspirasi dari Pengalaman Studi di Inggris
Ide menciptakan Aika muncul ketika Giga mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024. Saat berada di sana, ia melihat bagaimana layanan kesehatan mental dapat diakses dengan mudah melalui percakapan di telepon seluler.
Pengalaman itu membuatnya membandingkan kondisi layanan psikologis di Indonesia. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara jumlah psikolog yang tersedia dengan banyaknya mahasiswa yang membutuhkan bantuan kesehatan mental.
Ia kemudian tergerak untuk menciptakan solusi berbasis teknologi yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut.
“Motivasi proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan saya adalah untuk mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care,” ujar Giga kepada wartawan, Rabu, 4 Maret 2026.
Aika, AI yang Berperan sebagai “Teman Curhat” Mahasiswa
Aika dikembangkan sebagai asisten digital berbasis teks yang mampu menganalisis keluhan psikologis pengguna melalui percakapan. Sistem ini bekerja dengan cara yang menyerupai metode kerja psikolog, yaitu menggali permasalahan secara bertahap melalui dialog.
Melalui percakapan tersebut, Aika kemudian menyusun beberapa tahapan analisis, antara lain:
- rangkuman permasalahan pengguna
- penilaian kondisi awal
- kemungkinan diagnosis awal
- rekomendasi bantuan yang diperlukan
Hasil analisis tersebut kemudian diteruskan kepada psikolog atau konselor manusia untuk ditindaklanjuti.
Jika keluhan yang disampaikan tergolong ringan, Aika akan memberikan saran mandiri seperti latihan pernapasan, teknik relaksasi, atau anjuran beristirahat. Namun jika sistem mendeteksi kondisi yang membutuhkan penanganan profesional, pengguna akan diarahkan untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog.
AI Tidak Menggantikan Psikolog
Berbeda dengan AI generatif pada umumnya, Aika dirancang tidak untuk menggantikan tenaga profesional. Sebaliknya, sistem ini bertindak sebagai penghubung antara pengguna dan psikolog.
Menurut Giga, pendekatan ini penting agar layanan kesehatan mental tetap mengutamakan peran manusia dalam proses konseling.
“Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah,” jelasnya.
Dalam sistem ini terdapat tiga jenis pengguna utama, yaitu:
- Mahasiswa sebagai pengguna layanan yang menyampaikan keluhan
- Psikolog atau konselor yang menerima laporan analisis dari sistem
- Admin sistem yang mengelola operasional platform
Dengan struktur tersebut, proses konseling diharapkan dapat berlangsung lebih efisien karena psikolog sudah menerima ringkasan kondisi awal pengguna sebelum sesi konsultasi dimulai.
Memantau Kondisi Pengguna Setelah Konseling
Tidak hanya membantu proses awal konsultasi, Aika juga dirancang untuk memantau kondisi pengguna setelah sesi konseling. Sistem akan mengirimkan pengingat melalui email kepada pengguna untuk memastikan kondisi psikologis mereka tetap stabil.
Ke depan, Giga juga berencana mengembangkan fitur baru yang memungkinkan integrasi Aika dengan aplikasi perpesanan seperti Telegram. Fitur ini bertujuan untuk membentuk komunitas atau support group antar pengguna, sehingga mahasiswa dapat saling memberikan dukungan emosional.
Menurutnya, pendekatan teknologi dapat membantu mengatasi hambatan psikologis yang sering muncul ketika seseorang ingin mencari bantuan.
“Penggunaan AI sebagai lapisan awal layanan kesehatan mental membantu mengurangi hambatan psikologis seperti rasa malu, takut, atau ragu untuk bercerita,” katanya.
Baca Juga: WhatsApp Dihubungi Nomor Tak Dikenal? Begini Cara Mengatasi Pesan Spam
Harapan untuk Masa Depan Layanan Kesehatan Mental
Masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa menjadi perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tekanan akademik, masalah sosial, hingga perubahan gaya hidup sering menjadi faktor yang memicu stres, kecemasan, atau depresi.
Dalam konteks tersebut, inovasi seperti Aika dinilai dapat menjadi solusi awal untuk memperluas akses layanan psikologis.
Giga berharap pengembangan teknologi ini dapat terus dilanjutkan dan digunakan secara lebih luas di lingkungan pendidikan.
Dengan sistem yang menjaga privasi pengguna, mahasiswa diharapkan dapat lebih terbuka dalam menyampaikan masalah yang mereka alami. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong lebih banyak orang untuk mencari bantuan sejak dini sebelum kondisi mental memburuk.
“Aika kami rancang agar pengguna merasa aman dan nyaman ketika bercerita. Dengan begitu, semakin banyak orang berani mengakses layanan psikologi dan mendapatkan penanganan sejak dini,” ujar Giga.
Ke depan, inovasi berbasis kecerdasan buatan seperti ini berpotensi menjadi bagian penting dalam transformasi layanan kesehatan mental, terutama di lingkungan kampus yang memiliki jumlah pengguna besar namun sering menghadapi keterbatasan tenaga profesional.