TAJURHALANG, POSKOTA.CO.ID - Di saat sebagian besar kepala keluarga berlomba pulang lebih cepat demi berbuka puasa bersama orang tercinta, Kapolsek Tajurhalang, Iptu Raden Suwito, justru menjalani Ramadan dengan ritme berbeda. Waktunya lebih banyak tersita di Mapolsek ketimbang di ruang makan rumahnya sendiri.
Perwira pertama yang kini memimpin wilayah Tajurhalang itu mengaku, momen sahur, berbuka, hingga tarawih bersama keluarga hanya bisa ia rasakan di hari pertama puasa. Selebihnya, ia memilih—atau lebih tepatnya, dituntut keadaan—untuk berada di tengah anggotanya dan masyarakat.
“Apa yang ada sekarang ini sudah menjadi konsekuensi tugas. Momen spesial bersama keluarga saat Ramadhan maupun Idulfitri memang sangat jarang,” ujar Suwito saat ditemui di Mapolsek Tajurhalang, Minggu, 1 Maret 2026.
Lulusan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) angkatan 48 Tahun 2019 Resimen Wira Tanggon Adhysatya (WTA) dengan konsentrasi ilmu intelijen itu memahami betul risiko dan tanggung jawab yang melekat di pundaknya. Sebagai aparatur negara, ia merasa harus memastikan wilayah hukum Polsek Tajurhalang tetap aman dan kondusif dari potensi gangguan kamtibmas.
Baca Juga: Profil Samantha Elsener: Psikolog Adik Darius Sinathrya yang Viral Kisah Mualaf dan Konflik Keluarga
Bagi Suwito, kebiasaan lebih banyak berada di kantor saat Ramadan bukan hal baru. Hampir setiap tahun ia menjalani pola serupa. Beruntung, keluarga di rumah telah memahami panggilan tugasnya sebagai pelindung, pengayom, pelayan, dan penegak hukum.
“Alhamdulillah, keluarga sudah sangat mengerti. Mereka paham profesi ini memang menuntut pengabdian lebih,” tuturnya.
Selama sebulan penuh puasa, ia mengakui hanya satu hari benar-benar bisa menikmati kebersamaan lengkap dengan keluarga—mulai dari sahur, berbuka, hingga salat tarawih. Setelah itu, waktunya habis untuk patroli, pengawasan, dan memastikan situasi tetap terkendali.
Menurutnya, intensitas kerawanan cenderung meningkat saat Ramadan hingga Lebaran. Fenomena tawuran remaja, perang sarung, balap lari, hingga potensi gangguan keamanan lainnya menjadi perhatian serius. Karena itu, ia memilih lebih sering turun langsung bersama anggota.
Baca Juga: Virgoun Menikah Lagi? Ini Profil dan Perjalanan Karir Calon Istri Lindi Fitriyana
“Supaya lebih optimal, saya lebih banyak melakukan patroli. Jadi memang jarang pulang ke rumah,” katanya.
Menariknya, di sela-sela kesibukan, Suwito juga menyempatkan diri berbuka puasa bersama para tahanan di sel. Baginya, para narapidana tetaplah manusia yang berhak merasakan suasana kebersamaan dan pembinaan rohani.
“Kalau ada kesempatan, kami berbuka puasa bersama dan tadarusan. Mereka juga manusia,” tambahnya.
Di balik ketegasan seragamnya, tersimpan sisi humanis yang jarang terekspos. Ramadan baginya bukan sekadar bulan pengabdian, tetapi juga momentum memperkuat nilai empati—baik kepada anggota, masyarakat, maupun para tahanan.
Baca Juga: Profil Lengkap Ria SW: Umur, Riwayat Kuliah dan Undangan Eksklusif ke Marapthon
Menutup perbincangan, Suwito mengimbau warga Tajurhalang untuk bersama-sama menjaga harkamtibmas, terutama mengawasi anak-anak agar tidak keluar rumah hingga larut malam.
“Total ada tujuh desa di wilayah hukum kami. Mari kita hidupkan peran Perpolisian Masyarakat (Polmas) agar keamanan lingkungan tetap terjaga,” pesannya.
Bagi Iptu Raden Suwito, Ramadan mungkin tak selalu diwarnai kebersamaan keluarga. Namun, di balik itu semua, ada dedikasi yang tak pernah putus—demi memastikan masyarakat bisa beribadah dengan rasa aman dan tenang.