POSKOTA.CO.ID - Dunia maya kembali diramaikan oleh polemik dua kreator konten Indonesia, Tasya Farasya dan Bunga Sartika. Persoalan bermula dari pernyataan Tasya yang menyinggung jargon “halo kakak, boleh spill skincare?” salam khas yang dipopulerkan Bunga dalam berbagai kontennya.
Kontroversi mencuat setelah Tasya mengunggah pernyataan di akun Threads miliknya. Dalam unggahan itu, ia mengaku pernah ditawari bayaran untuk tampil dalam konten bersama Bunga, namun menolak tawaran tersebut.
“Gue pernah ditawarin dibayar buat ‘halo kakak kakak kakak boleh spill skin care-nya kak’. Gue tolak cetasss,” tulisnya.
Pernyataan itu segera memicu reaksi beragam dari warganet. Sebagian menilai Tasya berpegang teguh pada prinsip dalam endorsement. Sementara itu, kelompok lain mengecam unggahan tersebut sebagai tindakan yang berpotensi merugikan kreator lain yang mengandalkan gaya komunikasi khas sebagai identitas konten mereka.
Baca Juga: Lindi Fitriyana Hamil Duluan Sebelum Nikah dengan Virgoun? Begini Penjelasan dari Pihak Keluarga
Bunga Sartika Buka Suara dan Memutuskan Mundur dari Quezely
Tak lama setelah pernyataan Tasya viral, Bunga akhirnya memberikan respons resmi melalui akun TikTok miliknya. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan permohonan maaf kepada publik.
“Halo kak! Aku minta maaf atas kegaduhan yang terjadi belakangan ini. Aku sadar ada bagian dari caraku menyampaikan konten yang bikin banyak orang nggak nyaman, dan itu jadi tanggung jawab aku sepenuhnya,” ucapnya dalam video yang diunggah pada Jumat malam.
Bunga menjelaskan bahwa seluruh konten yang ia buat sejak awal bertujuan untuk menghibur penonton, termasuk ketika ia membuat konten perjalanan ke Baduy dan sejumlah lokasi lainnya.
“Sejak awal aku bikin konten, termasuk ke Baduy, tempat penelusuran, dan tempat-tempat lainnya, murni ingin menghibur kalian. Tapi apa pun niatnya, aku paham dampaknya ke kalian, dan aku minta maaf,” ujarnya.
Pernyataan itu diikuti keputusan mengejutkan. Bunga mengumumkan mundur sebagai host di Quezely.
“Dengan segala pertimbangan, aku Bunga Sartika memutuskan untuk mundur sebagai host di Quezely,” katanya.
Ia menambahkan bahwa beberapa konten yang belum terjadwal masih akan tayang. “Aku juga minta maaf kalau beberapa waktu ke depan masih ada postingan dengan aku sebagai host-nya, karena masih ada jadwal tayang,” tambahnya.
Bunga mengungkapkan keputusannya diambil karena ia masih berusia 19 tahun dan membutuhkan waktu untuk belajar. “Aku ingin terus berkembang dan menjadi lebih dewasa,” tutupnya sambil menahan tangis.
Baca Juga: Lomba Lari Jalan Lingkar Stadion Pakansari Jadi Hiburan Warga Bogor saat Ramadhan
Tasya Farasya Klarifikasi dan Meminta Maaf
Setelah pengunduran diri Bunga memicu pembicaraan luas, Tasya akhirnya memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengakui bahwa ucapannya memiliki dampak besar dan meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung.
“First of all, aku minta maaf kalau dampak dari perkataan aku menyinggung berbagai pihak,” tulisnya.
Tasya menegaskan bahwa dirinya tak memiliki niat untuk menimbulkan kegaduhan sebesar ini. “Aku jadi menyadari betapa impactful-nya ucapan aku walaupun nggak ada niatan bikin situasi jadi besar,” lanjutnya.
Meski telah meminta maaf, Tasya menyatakan tetap berpegang pada prinsip transparansi dalam endorsement.
“Aku punya respect pada sesama content creator, tapi aku juga akan tetap firm dengan seluruh values dan transparansi dalam endorsement yang aku pegang,” tegasnya.
Ia memastikan akan menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi. “Aku belajar dari kejadian ini supaya bisa lebih mawas dalam menyampaikan pendapat ke depannya,” tulisnya.
Kontroversi Tasya–Bunga memperlihatkan bahwa ekosistem kreator konten, yang sangat bergantung pada personal branding, rentan terguncang oleh komentar dari kreator besar. Jargon “halo kak!” yang dibawakan Bunga misalnya, menjadi diferensiasi yang memperkuat identitas kontennya.
Di sisi lain, keputusan Bunga untuk mundur dari Quezely juga memunculkan diskursus mengenai tekanan psikologis pada kreator muda, terutama ketika menghadapi kritik massal di media sosial. Usianya yang masih 19 tahun menjadi sorotan, mengingat tuntutan industri digital yang sangat cepat dan intens.