Polisi muda Bripda Dirja Pratama alias DP (19) yang tewas dianiaya seniornya. (Sumber: Threads/@hendrass92)

Daerah

Isi Pesan Terakhir Bripda Dirja Pratama ke Sang Ibunda Apa? Ayahanda Aipda Muhammad Jabir Ungkap Fakta Pilu

Senin 23 Feb 2026, 16:55 WIB

POSKOTA.CO.ID - Kematian polisi muda Bripda Dirja Pratama alias DP (19) menyisakan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memantik sorotan publik.

Anggota Polri yang baru memulai pengabdiannya itu dinyatakan meninggal dunia usai menjalani perawatan medis di rumah sakit pada Minggu, 22 Februari 2026.

Fakta-fakta yang terungkap kemudian menunjukkan bahwa, korban diduga kuat meninggal akibat penganiayaan di barak, bukan karena sakit sebagaimana laporan awal.

Dalam perkara ini, aparat kepolisian sendiri telah menetapkan satu tersangka, yakni Bripda Pirman.

Penetapan tersebut dilakukan setelah penyidik menemukan adanya kesesuaian antara keterangan pelaku dengan hasil pemeriksaan medis dan forensik terhadap tubuh korban.

Kronologi Kejadian

Seperti diketahui, Bripda Dirja Pratama merupakan anggota Polri yang berdinas di Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Sulawesi Selatan.

Pemuda asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan itu baru dinyatakan lulus pendidikan Bintara Polri pada 2025.

Sebelum meninggal dunia, Bripda Dirja sempat dilaporkan mengalami sakit dan mendapatkan perawatan medis.

Namun, kondisi korban saat ditemukan menimbulkan kecurigaan pihak keluarga. Terdapat luka di bagian bibir, lebam di perut, serta darah yang keluar dari mulut korban.

Pihak keluarga pun mendesak, agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.

Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rahardjo Puro, menegaskan bahwa penanganan kasus ini dilakukan secara profesional, transparan, dan berbasis pembuktian ilmiah.

Ia memastikan, tidak ada upaya untuk menutup-nutupi fakta dalam perkara yang menyita perhatian publik tersebut.

Djuhandhani mengungkapkan bahwa keterangan Bripda P selaku tersangka telah dihubungkan dengan hasil pemeriksaan dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes).

Dari hasil tersebut, penyidik menemukan adanya kecocokan antara pengakuan tersangka dan kondisi luka yang dialami korban.

"Kesesuaian itu dari keterangan memukul bagian kepala korban dan bagian tubuh lainnya, ini sudah sinkron," ungkap dia memberikan keterangan.

Meski telah menetapkan satu tersangka, Djuhandhani menyatakan pihaknya belum mengungkap motif di balik tindakan penganiayaan tersebut.

Menurutnya, penyidik masih mendalami peran serta keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.

"Tadi malam kita sudah lakukan konstruksi ulang, kita masih dalami motifnya."

"Untuk perkembangan, lima orang lagi saat ini masih dalam proses pemeriksaan, itu kita memerlukan bukti-bukti baik secara materil maupun secara lainnya," ungkapnya.

Kapolda menegaskan, setiap anggota Polri yang terbukti terlibat akan diproses melalui dua jalur hukum sekaligus.

Selain mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pidana di pengadilan umum, para pelaku juga akan menjalani proses etik dan disiplin profesi Polri.

Langkah tegas tersebut, kata Djuhandhani, diambil sebagai bentuk komitmen Polda Sulsel dalam menjaga integritas institusi serta menjawab tuntutan publik akan keadilan dan transparansi.

"Kami akan buktikan bahwa dalam waktu kurang dari 1x24 jam, kami bisa mengungkap ini secara transparan. Disiplin etika akan kita tegakkan di Polda Sulsel," ucap Djuhandhani.

Baca Juga: Berapa Nominal Uang Beasiswa LPDP yang Harus Dikembalikan Suami Dwi Sasetyaningtyas? Segini Besarannya

Isi Pesan Terakhir Bripda Dirja Pratama Apa?

Di tengah penyelidikan yang masih berjalan, kisah pilu datang dari keluarga korban.

Sebelum kabar duka itu tiba, Bripda Dirja Pratama ternyata sempat berbalas pesan WhatsApp dengan sang ibu seusai sahur.

Dalam percakapan tersebut, Bripda DP menanyakan itik yang rencananya akan dipotong untuk dibuat Nasu Palekko, makanan khas Bugis berbahan dasar daging bebek atau ayam dengan cita rasa pedas dan rempah kuat.

Jika takdir berkata lain, hidangan itu rencananya akan dibawa langsung oleh sang ayah, Aipda Muhammad Jabir, dari Pinrang ke asrama Ditsamapta Polda Sulsel untuk dinikmati bersama rekan-rekannya.

"Dia chat ibunya karena ini hari dia mau saya bawakan itik Nasu Palleko dari Pinrang," kata Aipda Muhammad Jabir.

Sang ibu, Sunarni, pun membalas pesan tersebut dengan penuh semangat. Namun, balasan pada pukul 05.00 Wita itu tak pernah lagi dijawab oleh Bripda Dirja.

Tak lama berselang, justru kabar duka datang menghampiri sang ayah.

"Jadi dia (DP) tanya, Bu apakah jadi kita kerja itu ituk, jadi ibunya bilang iya. Jadi pas saya masih tidur menelpon letting saya berita duka ini," bebernya.

Baca Juga: Berapa Nominal Uang TPG Triwulan IV 2025? Cek Jadwal Pencairan di Info GTK

Selain Nasu Palekko, Muhammad Jabir juga berencana membawa sepeda motor anaknya ke asrama untuk menunjang aktivitas sehari-hari Bripda Dirja. Rencana sederhana itu kini tinggal kenangan.

"Cuman itu saja itik (Bripda DP tanyakan ke ibunya), dia mau makan itik sama seniornya," katanya lagi.

Di mata sang ayah, Bripda Dirja adalah pribadi yang baik, tidak pernah terlibat konflik, dan menjaga hubungan dengan rekan-rekannya.

"Di mes, baik kepada semua temannya di sana. Saya kontak terus kemarin saya bicara baik, sehat, motornya mau saya kasi naikkan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Tags:
Aipda Muhammad JabirPolda SulselBripda PirmanBripda Dirja Pratama

Mutia Dheza Cantika

Reporter

Mutia Dheza Cantika

Editor