JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto menilai pelibatan Brigade Mobil (Brimob) dalam patroli kewilayahan tidak serta-merta berbahaya selama prosedur operasional standar dijalankan dengan baik.
“Selama SoP-nya dijalankan dengan konsisten dan disiplin tinggi sebenarnya risiko insiden seperti itu bisa diminimalkan,” kata Bambang, Senin, 23 Februari 2026.
Menurut Bambang, konsistensi menjadi kunci agar kejadian serupa yang pernah terjadi di daerah lain tidak terulang. Selain itu, Bambang juga mengingatkan pentingnya pengawasan internal dan kepatuhan terhadap aturan oleh seluruh personel yang diterjunkan.
“Konsisten dalam menerapkan aturan,” ujarnya.
Baca Juga: Geram Anggota Brimob di Maluku Tewaskan Pelajar, Kapolri Janjikan Hukuman Setimpal
Pelibatan personel Brimob dilakukan selama Ramadhan 1447 hijriah. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pencegahan tawuran yang kerap meningkat pada malam hingga dini hari di sejumlah titik rawan di Jakarta dan sekitarnya.
“Pelibatan Brimob di kewilayahan merupakan bantuan penguatan bagi satuan kewilayahan, khususnya pada titik dan jam rawan,” ujarnya.
Menurut Budi, pengerahan personel tersebut telah melalui pertimbangan matang demi meningkatkan daya cegah aparat di lapangan.
Meski Brimob memiliki kemampuan dalam penanganan gangguan keamanan berintensitas tinggi, satuan tersebut juga dapat dilibatkan dalam langkah preventif seperti patroli skala besar dan respons cepat terhadap potensi gangguan kamtibmas. Kegiatan tersebut, untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat, patroli rutin hingga penempatan personel di jam rawan terus ditingkatkan.
Baca Juga: Siswa Tewas Dianiaya Brimob di Maluku, Yusril: Aparat Penegak Hukum Wajib Dihukum jika Melanggar
“Penempatan personel di lokasi tertentu, serta langkah pencegahan saat terdeteksi adanya aktivitas berkumpul yang berpotensi mengarah pada tawuran," ucapnya.