Obrolan warteg hari ini, Jumat, 20 Februari 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Nah Ini Dia

Obrolan Warteg: Gerak Cepat Tangani Kenaikan Harga

Jumat 20 Feb 2026, 06:04 WIB

POSKOTA.CO.ID - Sebelum puasa, harga sejumlah bahan pokok mahal. Harga cabai hingga bawang terpantau belum juga kembali normal pada Ramadhan 1447 Hijriah.

Sekecil apa pun pertambahan harga berpotensi semakin signifikan jika tidak segera ditangani. Itulah sebabnya Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir meminta pemerintah daerah bergerak mengatasi pergerakan harga.

“Gerak cepat itu berarti segera merespons, begitu ada kenaikan harga, dalami mengapa naik, jangan meneng bae,” kata Heri kepada Yudi dan mas Bro dalam sesi obrolan warteg.

“Apalagi jika kenaikan terjadi di daerah sentra produksi. Misalnya barangnya melimpah, mengapa harga naik. Ini harus diawasi mengapa terjadi,” timpal Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Awali Puasa Dengan Hargai Perbedaan

“Kadang pedagang di pasar bilang harga naik dari sononya. Kalau dari sononya sudah naik, maka harga jual pun naik. Kalau tidak, siapa yang bakal nanggung kenaikan. Alasan ini cukup logis. Karenanya kenaikan harga biasanya merata, setidaknya pada komunitas yang sama,” kata mas Bro.

“Iya juga. Kalau pedagang naikkan harga, padahal harga belinya rendah, enggak akan laku karena pedagang lain akan menjual dengan harga jauh lebih murah,” tutur Yudi.

“Kalau enggak cepat terjual bisa rugi dua kali karena cabai tidak bisa tahan lama, cepat busuk,” jawab Heri.

“Jadi kecil kemungkinan ada unsur penimbunan barang, mengingat komoditas pangan kelompok cabai dan bawang memiliki risiko jika disimpan terlalu lama,” papar Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyoal Tembok Ratapan Solo

“Hasil inspeksi banyak pihak, kenaikan harga cabai dan bawang akibat pasokan dari daerah produsen mulai tersendat, selain stok mulai menipis, sementara permintaan meningkat. Nggak ada unsur permainan,” urai mas Bro.

“Yang jadi soal, kenaikan seberapa pun besarnya tetap berdampak bagi masyarakat, selain kenaikan harga pangan dapat mengerek laju inflasi, dan menurunkan daya beli,” ungkap Heri.

“Bagi masyarakat mampu, kenaikan berkisar ribuan, enggak akan terasa. Lain halnya bagi masyarakat seperti kita ini, terlebih warga berpenghasilan harian, akan sangat terasa,” ucap Yudi.

“Hendaknya aparat dan pejabat tidak mengukur kenaikan harga dari sudut pandang pribadi,” beber Heri.

“Sering kita dengar, jika terdapat kenaikan, disebutnya kenaikan harga masih tergolong wajar. Maksudnya masih dalam batas toleransi akibat seretnya pasokan dan gangguan distribusi, sementara permintaan melonjak,” kata Yudi.

“Kadang kita merenung, kenaikan masih wajar itu untuk siapa. Bagi dirinya, apa bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata mas Bro. (Joko Lestari)

Tags:
Ramadhanharga bahan pokokobrolan warteg

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor