POSKOTA.CO.ID - Bagi Redim Okto Fudin, organisasi bukan sekadar ruang berkumpul atau tempat menambah jejaring. Ia menjalaninya sebagai proses Panjang yang dimulai sejak remaja dan terus berlanjut hingga kini.
Wakil Ketua GP Ansor Jakarta itu mengingat betul titik awal langkahnya: bangku SMA. Saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua OSIS. Dari ruang kelas dan rapat-rapat siswa, ia mulai belajar tentang kepemimpinan, manajemen konflik, hingga tanggung jawab publik.
“Dari sekolah dulu, dari SMA saya sudah ketua OSIS. Setelah kuliah baru berproses di organisasi mahasiswa,” tuturnya.
Memasuki masa kuliah, jalan organisasinya semakin terarah. Ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga tingkat nasional. Di kepengurusan Pengurus Besar (PB) PMII periode 2005-2008, Redim menjabat sebagai Ketua Bidang Organisasi Kepemudaan.
Baca Juga: Prediksi Cuaca Jakarta di Hari Pertama Puasa Ramadhan Kamis 19 Februari 2026
Baginya, pengalaman di PMII menjadi sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. Ia belajar mengelola dinamika organisasi besar dengan beragam latar belakang kader.
Tak hanya itu, semasa mahasiswa ia juga dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) Jakarta serta Ketua BEM Universitas Jakarta pada 2001. Dari kampus, ia memahami bagaimana gagasan mahasiswa bisa diartikulasikan menjadi gerakan yang berdampak.
Selepas fase mahasiswa, pengabdiannya berlanjut di tubuh Gerakan Pemuda Ansor. Ia mengikuti seluruh tahapan kaderisasi, mulai dari pengkaderan dasar hingga Pendidikan Kader Lanjutan (PKL).
Menurut Redim, Ansor adalah organisasi kader. Artinya, kekuatan utamanya terletak pada pembinaan anggota secara berjenjang dan berkelanjutan.
Baca Juga: Satpol PP Mulai Awasi Tempat Hiburan di Jakarta per Hari Ini
“Ansor itu organisasi kader, maka fokus utamanya kaderisasi di semua tingkatan, dari cabang sampai pengurus anak cabang,” ujarnya.
