POSKOTA.CO.ID - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan pertanyaan klasik, mengapa hampir setiap Imlek selalu turun hujan, terutama di Indonesia?
Fenomena yang terasa berulang ini sering dikaitkan dengan pertanda keberuntungan, pembersihan energi negatif, hingga mitos turun-temurun. Namun, apakah hujan saat Imlek benar-benar berkaitan dengan kepercayaan? Atau semata-mata karena faktor musim?
Berikut penjelasan tentang mengapa imlek selalu dikaitkan dengan huja?
Makna Hujan Saat Imlek dalam Tradisi Tionghoa
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek adalah momen paling sakral dalam kalender lunar. Selain dirayakan dengan angpao, barongsai, dan makan malam keluarga, perayaan ini kerap disertai turunnya hujan. Dalam kepercayaan tradisional, hujan bukan sekadar fenomena alam melainkan simbol makna spiritual dan kultural.
Dalam budaya Tionghoa, air melambangkan rezeki, kesuburan, dan kehidupan baru. Karena itu, turunnya hujan saat Tahun Baru Imlek dianggap sebagai berkah. Mengutip laporan resmi dari laman Universitas Negeri Surabaya berjudul “Imlek dan Hujan: Antara Kepercayaan dan Fenomena Alam”, dinyatakan:
“Dalam kepercayaan Tionghoa, hujan yang turun saat perayaan Imlek dianggap sebagai pertanda baik. Hujan melambangkan keberkahan, rezeki, dan kemakmuran.”
Pandangan serupa juga diutarakan oleh sejumlah ahli Feng Shui. Mereka menilai hujan sebagai simbol kelimpahan yang akan menyelimuti daerah yang diguyur hujan, asalkan tidak menimbulkan bencana.
Baca Juga: Kontroversi The Connell Twin Apa Saja? Kini Viral Berseteru dengan Jennifer Coppen
Mitos Turunnya Dewi Kwan Im dan Bunga Mei Hwa
Di balik pemaknaan spiritual tersebut, masyarakat juga mengenal cerita populer mengenai turunnya Dewi Kwan Im pada saat Imlek. Diyakini bahwa Dewi Kwan Im turun ke bumi untuk “menyiram” bunga Mei Hwa simbol awal baru dan harapan.
Mitos ini memandang hujan sebagai bentuk restu dari langit. Tak heran jika di beberapa daerah, air hujan saat Imlek bahkan digunakan untuk membersihkan rumah atau altar sembahyang sebagai bagian dari ritual penyucian.
Penjelasan Ilmiah: Imlek Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan
Meski sarat makna budaya, fenomena hujan saat Imlek sebenarnya memiliki penjelasan ilmiah. Tahun Baru Imlek selalu jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Di Indonesia, periode tersebut merupakan masa puncak musim hujan.
Menurut data klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan Januari–Februari adalah waktu dengan curah hujan tertinggi di berbagai wilayah Indonesia.
Masih dari laporan Universitas Negeri Surabaya, dijelaskan:
“Perayaan ini biasanya jatuh pada puncak musim hujan dengan curah yang tinggi, khususnya di Indonesia. Itulah alasan Imlek sering turun hujan karena memang perayaannya jatuh pada musim penghujan.”
Dengan demikian, intensitas hujan yang sering terjadi pada Imlek bukan dipengaruhi unsur mistis, melainkan pola iklim tropis Indonesia.
Makna Hujan Menurut Ahli Feng Shui
Meski sains memberikan penjelasan jelas, tafsir budaya tetap hidup dalam masyarakat. Ahli Feng Shui memberikan makna berbeda pada tiap jenis hujan:
- Hujan deras: Dipandang membawa keberuntungan besar, selama tidak menyebabkan kerusakan.
- Hujan gerimis: Menandakan keberuntungan kecil namun stabil.
- Gerimis seharian: Diyakini membawa hoki sepanjang tahun.
- Hujan badai: Justru dianggap pertanda kurang baik karena memberikan dampak negatif.
Ini menunjukkan bahwa nilai simbolis hujan dipengaruhi intensitas dan dampaknya.
Jika Tidak Turun Hujan Saat Imlek, Apakah Pertanda Buruk?
Pertanyaan lain yang sering muncul ialah: bagaimana jika Imlek tidak hujan?
Cuaca cerah saat Imlek tidak berarti buruk. Tidak adanya hujan hanyalah kondisi atmosfer normal yang dipengaruhi faktor regional dan global. Perubahan iklim dunia yang semakin dinamis juga dapat mengubah pola hujan dari tahun ke tahun.
Dengan kata lain, keberuntungan seseorang tidak ditentukan oleh hujan atau tidaknya cuaca pada satu hari tertentu.
Secara historis, masyarakat Tionghoa menjadikan hujan sebagai simbol penting karena berkaitan dengan pertanian dan kesuburan tanah. Makna tersebut bertahan hingga kini, meski masyarakat modern merayakan Imlek dengan cara yang lebih variatif.
Saat ini, Imlek dipandang sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan refleksi diri, dan memulai tahun dengan harapan baru. Tradisi makan malam keluarga, pembagian angpao, hingga kunjungan ke klenteng menjadi bagian dari perayaan yang meriah.
Hujan atau tidaknya, Imlek tetap merupakan momen penuh makna.