Ilustrasi umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadan setelah proses penyempurnaan syariat pada masa awal Islam. (Sumber: Freepik)

RAMADHAN

Benarkah Puasa Ramadhan Pernah Berlangsung 24 Jam? Ini Penjelasan Sejarahnya

Senin 16 Feb 2026, 15:03 WIB

POSKOTA.CO.ID - Sejarah Islam mencatat bahwa puasa Ramadan tidak serta-merta hadir dalam bentuk yang kita praktikkan saat ini. Sejumlah riwayat dan literatur klasik menjelaskan bahwa puasa mengalami tahap penyempurnaan dari masa ke masa.

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah puasa Ramadhan selalu berdurasi dari fajar hingga Magrib seperti sekarang?

Berikut ini adalah penjelasan sejarah puasa yang dilansir dari channel Youtube @Timeless Talks.

Baca Juga: 7 Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Indonesia, Pernahkah Kamu Mengikutinya?

Puasa Para Nabi Sebelum Syariat Islam Disempurnakan

Puasa Nabi Adam AS

Dalam riwayat tertentu, Nabi Adam disebutkan menjalankan puasa sebagai bentuk taubat setelah diturunkan ke bumi. Puasa dikisahkan membantu memulihkan kondisi fisiknya yang terkena panas matahari.

Kisah ini menunjukkan bahwa praktik puasa telah dikenal jauh sebelum syariat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Puasa Nabi Nuh, Daud, dan Musa AS

Beberapa nabi berikutnya juga dikisahkan melakukan ibadah puasa:

Riwayat-riwayat tersebut menegaskan bahwa puasa telah menjadi bagian dari tradisi ketakwaan para nabi sebelum Islam.

Masa Nabi Muhammad SAW: Syariat Puasa Mulai Disempurnakan

Tahapan Awal: Puasa Asyura yang Sangat Dianjurkan

Sebelum perintah puasa Ramadhan turun, umat Islam dianjurkan menjalankan puasa Asyura. Puasa ini memiliki kedudukan istimewa pada masa awal dakwah.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA, sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu Nabi SAW menjawab: "Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat" (HR. Muslim).

Perintah Wajib Turun di Madinah

Kewajiban berpuasa Ramadhan turun pada tahun ke-2 Hijriyah setelah hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Perintah tersebut tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 183 dan 185, yang menegaskan bahwa ibadah ini diwajibkan bagi umat beriman.

Sejak saat itu, puasa Ramadan menjadi rukun Islam yang berlaku bagi seluruh Muslim yang mampu.

Aturan Puasa yang Sangat Berat pada Masa Awal Islam

Ketentuan awal puasa Ramadhan juga mencatat fase yang sangat berat umat Islam hanya boleh makan hingga waktu Isya, dan setelah itu dilarang makan hingga Magrib berikutnya. Artinya, hampir 24 jam berpuasa tanpa jeda sahur.

Nabi SAW melarang puasa wishal. Salah seorang sahabat bertanya, "Tapi engkau melakukannya wahai Rasulullah?" Nabi menjawab: "Siapa di antara kalian yang sama denganku? Sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum oleh Rabbku." (HR. Bukhari dan Muslim).

"Janganlah kalian melakukan wishal (menyambung puasa tanpa berbuka). Jika kalian ingin wishal, maka sambunglah sampai waktu sahur saja." (HR. Bukhari no. 1963 dan Muslim no. 1103).

Hal inilah yang membuat sebagian umat Islam kala itu menjalani puasa hampir 24 jam tanpa sengaja karena mereka tertidur terlalu cepat setelah berbuka.

Turunnya Keringanan Berpuasa

Kondisi yang memberatkan tersebut kemudian mendapat perhatian langsung melalui wahyu. QS Al-Baqarah ayat 187 diturunkan untuk memberikan keringanan. Ayat itu menjelaskan bahwa makan, minum, dan hubungan suami istri tetap diperbolehkan hingga terbitnya fajar.

Ayat ini menjadi tonggak perubahan besar dalam syariat puasa. Umat Islam tidak lagi terikat aturan “tidur sebagai batas” dan dapat memulihkan energi dengan sahur.

Dalam konteks kesehatan, keringanan ini sekaligus menunjukkan bahwa syariat Islam selalu mempertimbangkan kemampuan fisik umat, bukan sekadar beban ibadah.

Baca Juga: Nominal THR PNS 2026 Berapa? Segini Besaran yang Diprediksi Cair Awal Ramadhan 1447 H

Rukhsah bagi Musafir dan Orang Sakit

Selain keringanan pada waktu sahur dan berbuka, syariat juga memberikan rukhsah (dispensasi) bagi musafir, orang sakit, ibu hamil, menyusui, dan mereka yang memiliki kondisi tertentu.

Dengan adanya rukhsah, syariat memperlihatkan fleksibilitas dan prinsip bahwa ibadah harus memberi kemaslahatan, bukan menimbulkan mudarat.

Sejarah mencatat bahwa puasa Ramadhan bukanlah syariat yang muncul dalam bentuk final sejak awal. Ia mengalami proses penyempurnaan berjenjang, mulai dari tradisi puasa para nabi terdahulu, aturan awal yang sangat berat, hingga lahirnya keringanan yang memudahkan umat.

Kini, umat Muslim menjalankan puasa dari fajar hingga Magrib dengan aturan yang lebih ringan dibandingkan masa awal. Sejarah ini mengajarkan kita untuk lebih bersyukur, memahami nilai kemudahan dalam agama, dan menjalankan ibadah dengan semangat serta kesadaran yang lebih mendalam.

Tags:
sejarah puasa ramadhanaturan puasa zaman dulupuasa nabisyariat puasa islam

Yusuf Sidiq Khoiruman

Reporter

Yusuf Sidiq Khoiruman

Editor