POSKOTA.CO.ID - Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi mengunjungi makam keluarga.
Aktivitas spiritual ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi bentuk penghormatan, doa, sekaligus pengingat akan kefanaan hidup.
Dalam penjelasannya yang dilansir dari channel Youtube @Al-Bahjah TV, Buya Yahya menegaskan bahwa ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan selama dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Dalam penjelasan beliau, masyarakat diimbau menyambut Ramadan dengan persiapan matang. Persiapan lahir seperti kebutuhan pangan dan rencana kegiatan tentu diperlukan, namun yang lebih penting adalah kesiapan batin.
“Persiapkan hati terlebih dahulu sebelum persiapan lainnya,” ujar Buya dalam tausiyahnya.
Ramadhan bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi momentum penyucian diri yang membutuhkan kesiapan spiritual. Menata hati, membangun niat ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama merupakan pondasi penting sebelum memasuki bulan suci.
Silaturahmi menjadi unsur penting menjelang Ramadan. Buya Yahya menekankan bahwa memperbaiki hubungan antarsesama, terutama keluarga, tetangga, atau teman yang pernah berselisih, akan membuka pintu rahmat dan mempermudah seseorang menjalankan ibadah.
Hubungan yang buruk dapat menodai kekhusyukan Ramadhan. Sebaliknya, hubungan yang baik menghadirkan kedamaian. Dalam penjelasannya, Buya mencontohkan bagaimana hubungan harmonis memudahkan ajakan kebaikan:
“Jika hubungan kita baik, mengajak tetangga untuk salat tarawih bersama pun akan terasa indah.”
Baca Juga: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan 2026 Kapan Digelar? Ini Jadwal dan Prediksi Awal Puasa
Bagaimana Hukum Ziarah Kubur Sebelum Ramadhan?
Para ulama sepakat bahwa hukum ziarah kubur adalah sunnah. Hal tersebut juga dijelaskan dalam kitab Fatawa Fiqhiyah Al-Kubra, yang menyatakan bahwa berziarah ke makam termasuk makam para salih merupakan amalan yang dianjurkan. Bahkan perjalanan yang dilakukan khusus untuk tujuan ibadah ini dinilai sebagai bagian dari bentuk ketaatan seorang Muslim.
Di Indonesia, tradisi ini memiliki istilah berbeda di tiap daerah. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai nyekar, sedangkan masyarakat Jawa menyebutnya nyadran.
Keluarga biasanya membersihkan area makam, menaburkan bunga, membaca doa, serta memohonkan ampun bagi almarhum. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana budaya dan religiusitas berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, masyarakat juga kerap merujuk pada sejarah tempat-tempat suci. Salah satunya adalah Masjid Al Buraq, yang dikenal sebagai lokasi tempat Buraq diikat saat peristiwa Isra Miraj. Rujukan terhadap sejarah ini memperkuat pemahaman bahwa ziarah memiliki makna mendalam dalam perjalanan spiritual umat Islam.
Adab-Adab Ziarah Kubur yang Disarankan
Agar ziarah menjadi amalan yang bernilai ibadah, terdapat beberapa adab yang disunahkan untuk diamalkan. Adab ini bukan hanya aturan ritual, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan kekhusyukan dan adab seorang Muslim.
1. Berwudhu dan Meluruskan Niat
Peziarah dianjurkan berwudhu sebelum berangkat. Kesucian lahiriah ini menjadi simbol kesiapan batin untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. “Niatkan ziarah sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas atau formalitas,” demikian penjelasan sejumlah ulama fikih.
2. Mengucapkan Salam kepada Penghuni Kubur
Setibanya di area pemakaman, peziarah dianjurkan mengucapkan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian.”
Salam tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus doa untuk para ahli kubur.
3. Berdoa dengan Khusyuk
Peziarah diperbolehkan berdiri atau duduk dengan tenang saat berdoa, kemudian menghadap kiblat. Salah satu doa yang dianjurkan ialah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dan maafkanlah dirinya.”
Doa lain dapat ditambahkan sesuai kebutuhan, termasuk doa agar almarhum mendapat kelapangan kubur dan ditempatkan di surga.
4. Membaca Ayat Al-Qur’an
Banyak ulama menganjurkan membaca Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, kemudian menghadiahkan pahalanya untuk almarhum. Bacaan Al-Qur’an menjadi wujud penghormatan serta kiriman amal dari keluarga yang ditinggalkan.
5. Menutup dengan Doa untuk Diri Sendiri
Selain mendoakan almarhum, peziarah juga dianjurkan memanjatkan doa untuk diri sendiri. Momen ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan memasuki fase yang sama, sehingga diperlukan persiapan amal dan ketakwaan.
Baca Juga: Niat Mandi Wajib Sebelum Puasa Ramadhan: Penjelasan, Hukum, dan Langkah Praktisnya
Ziarah kubur menjelang Ramadhan tidak seharusnya dipandang sebagai tradisi musiman. Sebaliknya, ia merupakan kesempatan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah dan mengingat kembali tujuan hidup.
Momen ini juga menjadi ruang introspeksi sebelum memasuki Ramadhan bulan yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Dengan hati yang bersih dan penuh kesadaran, ibadah di bulan suci dapat dilaksanakan dengan lebih khusyuk dan berkualitas.
Ziarah kubur, jika dilakukan dengan adab yang benar, mampu memperdalam pemahaman tentang kematian, menumbuhkan empati kepada keluarga yang telah wafat, serta memperkuat ikatan keluarga. Nilai-nilai inilah yang membuat ziarah tetap relevan dalam kehidupan masyarakat hingga kini.