“Elektronik mah emang dari dulu udah pada rusak dua, jadi enggak beli lagi. Kulkas udah dua rusak, mesin cuci dua, TV udah empat kali. Makanya kemarin mah rusak enggak dibenerin lagi,” tuturnya lirih.
Banjir kali ini disebut sebagai yang paling parah dalam beberapa tahun tera- khir. Kepala Desa Cijayanti, Ahmad Paojan, menyebut penyebab utama adalah curah hujan tinggi yang membuat Kali Cisarapati tak mampu menampung debit air.
“Penyebab utama hujan besar terus airnya enggak nampung di Kali Cisarapati ini, dampaknya ke warga,” kata Paojan kepada wartawan.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, dampak kerusakan yang ditinggalkan cukup besar dan membuat warga harus memulai kembali dari awal. “Untuk saat ini (banjir) ini paling parah,” pungkasnya.
Bagi Suryati dan ratusan warga lainnya, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman. Ia telah menjadi siklus tahunan yang menguras tenaga, pikiran, dan harapan. Di tengah tumpukan lumpur dan perabotan rusak, Suryati hanya memiliki satu keinginan sederhana. Yaitu tempat tinggal yang aman.
“Pengen direlokasi tapi di tempat yang nyamanlah, enggak kena banjir gitu. Udah capek hati, cape pikiran, capek tenaga, capek segala-galanya,” ucapnya.
Kini, Kampung Cicerewed perlahan bangkit dari lumpur. Namun pertanyaan tentang solusi jangka panjang masih menggantung akankah banjir kembali menjadi cerita yang terulang tahun depan?
