Suryati, 46 tahun tengah bebersih rumahnya yang jebol akibat banjir bandang di Kampung Cicered, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. (Sumber: Poskota/Giffar Rivana)

SUDUT KOTA

Capek Hati, Suryati Menanti Relokasi

Jumat 13 Feb 2026, 09:46 WIB

POSKOTA.CO.ID - Sore itu, Rabu, 11 Februari 2026, hujan turun deras sejak pukul 16.00 WIB di wilayah Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Air yang tak lagi tertampung di aliran Kali Cisarapati meluap dan berubah menjadi banjir bandang yang menerjang Kampung Cicerewed.

Arus deras menyapu permukiman warga. Tercatat sedikitnya 73 rumah terdampak dengan 160 kepala keluarga di dalamnya.

Dari jumlah tersebut, delapan rumah dinyatakan rusak berat. Sehari berselang, Kamis, 12 Februari 2026, suasana kampung masih dipenuhi sisa bencana. Dari pantauan Poskota di lokasi, warga bahu-membahu membersihkan lumpur yang mengendap di lantai rumah.

Kasur, bantal, sofa, hingga peralatan rumah tangga dijemur di depan rumah masing-masing. Tembok sejumlah bangunan tampak jebol, menyisakan lubang besar akibat terjangan air.

Baca Juga: Warga Cijayanti Bogor Sebut Pembangunan Perumahan Penyebab Utama Banjir Bandang

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) terlihat membantu warga mengepel lantai dan menyingkirkan material sisa banjir. Bau lumpur basah bercampur perabotan yang rusak menyelimuti gang-gang sempit kampung tersebut.

Di antara deretan rumah yang rusak, kediaman Suryati, 46 tahun, menjadi salah satu yang mengalami dampak paling parah. Air setinggi hampir dua meter merendam rumahnya. Tekanan air membuat tembok jebol, keramik terangkat, dan pintu kamar rusak.

Saat banjir datang, Suryati tengah bekerja di Gunung Putri. Ia mengaku sudah tak heran jika hujan deras berarti air akan masuk ke rumahnya. Namun, kali ini menjadi yang terburuk selama ia tinggal di sana.

“Keramik ngelupas semua, tembok jebol, pin tu kamar jebol. Sampai di rumah sudah banyak orang, petugas penanggulangan bencana, polisi pada bantuin ngepel,” ujar Suryati saat ditemui di depan rumahnya.

Baca Juga: Cerita Warga Cijayanti Bogor Rumah Rusak Berat Akibat Banjir Bandang, Berharap Direlokasi

Tak ada pakaian yang bisa diselamatkan. Semuanya terendam air bercampur lumpur. Peralatan elektronik pun kembali rusak untuk kesekian kalinya dalam tujuh tahun terakhir.

“Elektronik mah emang dari dulu udah pada rusak dua, jadi enggak beli lagi. Kulkas udah dua rusak, mesin cuci dua, TV udah empat kali. Makanya kemarin mah rusak enggak dibenerin lagi,” tuturnya lirih.

Banjir kali ini disebut sebagai yang paling parah dalam beberapa tahun tera- khir. Kepala Desa Cijayanti, Ahmad Paojan, menyebut penyebab utama adalah curah hujan tinggi yang membuat Kali Cisarapati tak mampu menampung debit air.

“Penyebab utama hujan besar terus airnya enggak nampung di Kali Cisarapati ini, dampaknya ke warga,” kata Paojan kepada wartawan.

Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, dampak kerusakan yang ditinggalkan cukup besar dan membuat warga harus memulai kembali dari awal. “Untuk saat ini (banjir) ini paling parah,” pungkasnya.

Bagi Suryati dan ratusan warga lainnya, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman. Ia telah menjadi siklus tahunan yang menguras tenaga, pikiran, dan harapan. Di tengah tumpukan lumpur dan perabotan rusak, Suryati hanya memiliki satu keinginan sederhana. Yaitu tempat tinggal yang aman.

“Pengen direlokasi tapi di tempat yang nyamanlah, enggak kena banjir gitu. Udah capek hati, cape pikiran, capek tenaga, capek segala-galanya,” ucapnya.

Kini, Kampung Cicerewed perlahan bangkit dari lumpur. Namun pertanyaan tentang solusi jangka panjang masih menggantung akankah banjir kembali menjadi cerita yang terulang tahun depan?

Tags:
Kabupaten BogorCijayantibanjir bandang

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor