PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Jembatan di Kampung Sarewu-Pasirsalinten, Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, ambruk setahun lalu dan belum ada penanganan dari pemerintah.
Berdasarkan keterangan warga setempat, jembatan tersebut merupakan akses utama bagi anak-anak sekolah, petani maupun warga lainnya. Namun, kondisinya luput dari perhatian pemerintah hingga tidak ada perbaikan.
"Sudah berjalan 1 tahun 2 bulan jembatan di kampung kami ambruk. Sekarang aktivitas warga terganggu, karena jembatan kayu yang dibut warga tidak maksimal," ungkap Ade Mahroji, Ketua BPD Citaman kepada Poskota pada Kamis, 12 Februari 2026.
Selain itu Ade menuturkan, jembatan tersebut merupakan penghubung antar kampung dan sangat vital, karena jadi satu-satunya akses warga dan pelajar untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Jembatan Gantung di Lebak Ambruk, Tiga Pengendara Motor Jatuh ke Sungai
Akibat pembiaran tersebut, warga terpaksa membangun jembatan darurat dari kayu dan bambu yang jauh dari standar keselamatan.
"Setiap hari puluhan anak sekolah dan warga tetap dipaksa melintas mempertaruhkan nyawa demi hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan," ucapnya.
“Namun, Pemkab Pandeglang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan wakil rakyat, terkesan menutup mata atas kondisi itu," sambungnya.
Jembatan Ambruk 2024
Ade menyebutkan kondisi jembatan penghubung antar kampung itu ambruk pada 2024 lalu. Akibatnya warga dan khususnya anak-anak sekolah, harus melewati jembatan yang rapuh dan tak sesuai standar keselamatan.
Baca Juga: Pramono Anung Kebut Infrastruktur Jakarta, Jembatan Ancol–JIS hingga Penataan Kota Tua
Ia pun berharap dan meminta pemerintah untuk membangunkan jembatan permanen untuk memudahkan aktivitas warga dan anak sekolah.
“Kami minta anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, DPRD Provinsi Banten, serta Pemkab dan Pemprov Banten turun ke lapangan. Jangan cuma datang saat kampanye, rakyat tidak butuh janji, tapi butuh jembatan yang aman dan nyaman,” tuturnya.
“Warga dan anak-anak sekolah lewat jembatan kayu dan bambu setiap hari, mereka bertaruh nyawa agar bisa beraktivitas. Kalau sampai ada korban, siapa yang bertanggung jawab? Jangan pura-pura tidak tahu, apalagi jembatan sementara kini sudah rapuh lagi," sambungnya.
Warga Swadaya Buat Jembatan
Tak adanya perhatian dari pemerintah membuat warga melakukan swadaya untuk membangun jembatan dan pembangunan tersebut akan segera dilaksanakan.
Baca Juga: Jembatan di Wangunsari Lembang Amblas, Akses Warga Lumpuh
Swadaya masyarakat untuk membangun jembatan ini bukan prestasi, tetapi dinilai sebagai kegagalan pemerintah menjalankan kewajiban dasar.
“Kalau rakyat kecil harus bangun jembatan sendiri supaya anaknya bisa sekolah, berarti ada yang salah dalam pengelolaan anggaran dan prioritas pembangunan. Jangan tunggu korban dulu baru bergerak," kata Ade Mahroji.
Camat Jiput, Ade Juliansah membenarkan jembatan di Desa Citaman mengalami ambruk total pada tahun 2024 lalu.
“Ya benar, jembatan dengan ketinggian 8 meter, panjang 12 meter dan lebar 4 meter itu ambruk pada tahun 2024 lalu, berjalan sekitar satu tahun dua bulan,” jelasnya.
Dari awal ambruk total, hingga saat ini jembatan yang menghubungkan beberapa kampung itu, tengah dibangun jembatan sementara berbahan kayu dan bambu dari hasil swadaya masyarakat.
“Jembatan itu memang akses terdekat bagi masyarakat dan anak-anak menuju ke sekolah. Makanya, sudah tiga kali masyarakat membangun secara swadaya agar tetap bisa melintas jalur itu,” bebernya.
Pihaknya mengaku, sudah beberapa kali mengajukan agar jembatan tersebut dibangun. Namun, upayanya belum membuahkan hasil.
Kendati demikian, sudah ada dua kali dari pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang ke lokasi.
“Alhamdulillah, dari tim DPUPR Kabupaten sudah dua kali datang ke lokasi pada bulan Desember 2024, dan pada bulan Oktober 2025 dengan tim konsultan. Mudah-mudahan sudah ada perencanaanya,” kata Ade Juliansyah