Hukum puasa tanpa sahur. (Sumber: Unsplash/Clique Images)

RAMADHAN

Puasa Tanpa Sahur, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Rabu 11 Feb 2026, 17:18 WIB

POSKOTA.CO.ID - Puasa Ramadhan kerap diiringi dengan berbagai pertanyaan fiqih yang muncul di tengah masyarakat.

Menjelang puasa Ramadhan 2026, salah satu yang paling sering ditanyakan adalah terkait sahur.

Tidak sedikit umat Islam yang terbangun kesiangan, tertidur setelah salat malam, atau memiliki kondisi tertentu sehingga tidak sempat makan sahur.

Situasi ini kemudian memunculkan keraguan mengenai apakah puasa tetap sah jika dilakukan tanpa sahur?

Sahur sendiri merupakan salah satu amalan yang sangat lekat dengan ibadah puasa Ramadhan.

Aktivitas makan dan minum sebelum terbit fajar ini tidak hanya berfungsi sebagai persiapan fisik, tetapi juga memiliki nilai ibadah tersendiri.

Dalam berbagai hadis, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.

Meski demikian, dalam praktiknya, tidak semua orang mampu menjalankan sahur secara rutin.

Faktor kelelahan, kondisi kesehatan, pekerjaan dengan jam tidak menentu, hingga ketiduran sering menjadi alasan seseorang melewatkan sahur. Kondisi inilah yang kemudian memicu pertanyaan hukum di kalangan masyarakat.

Lantas, bagaimana hukumnya puasa tanpa sahur? Apakah puasa seseorang sah atau tidak jika tidak sahur? Simak ulasan selengkapnya.

Baca Juga: Anak Harus Puasa Sejak Umur Berapa? Ustadz Adi Hidayat Ungkap Batas Idealnya

Puasa Tanpa Sahur, Sah atau Tidak?

Seperti dikutip Poskota dari kanal YouTube Adi Hidayat Official, pada Rabu, 11 Februari 2026, Ustadz Adi Hidayat (UAH) menegaskan, puasa seseorang tetap sah meskipun tidak sahur.

Menurutnya, sahur bukanlah rukun puasa dan bukan pula syarat sah puasa. Rukun puasa sendiri hanya mencakup niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

UAH memaparkan selama seseorang telah berniat puasa dan mampu menjaga diri dari pembatal puasa sepanjang hari, maka puasanya dinilai sah secara syariat, meskipun ia tidak sempat makan sahur.

Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menerangkan, sahur hukumnya sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.

Anjuran tersebut didasarkan pada berbagai hadis Nabi SAW yang menyebutkan keutamaan sahur.

Namun, anjuran itu tidak sampai pada derajat wajib. Hal ini dibuktikan dengan adanya riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah tidak sahur karena kesibukan beliau dalam beribadah pada malam hari.

Jika sahur bersifat wajib, tentu Rasulullah SAW tidak akan meninggalkannya.

Dari sini, UAH menekankan, pentingnya memahami perbedaan antara ibadah yang bersifat wajib dan ibadah yang dianjurkan, agar umat tidak merasa terbebani atau ragu dalam menjalankan puasa.

Meski puasa tanpa sahur tetap sah, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan, seseorang yang meninggalkan sahur akan kehilangan keberkahan.

Baca Juga: Akun IG Vito Dery Alvi Silalahi Apa? Ini Jejak Digital PIC KOL Eiger yang Diduga Rendahkan Konten Kreator

Dalam kajiannya, ia menjelaskan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari jumlah makanan, melainkan dari dampak positif yang dihasilkan.

Sahur memberikan kekuatan fisik untuk menjalani aktivitas sehari-hari sekaligus menjaga kualitas ibadah selama berpuasa.

Selain itu, waktu sahur juga menjadi momen mustajab untuk berdoa dan berdzikir, karena dilakukan di sepertiga malam terakhir menjelang fajar.

Ustadz Adi Hidayat turut mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, perbedaan antara puasa umat Islam dan puasa Ahli Kitab terletak pada sahur.

Hadis ini menunjukkan bahwa sahur memiliki nilai pembeda dan identitas tersendiri bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa.

Meski demikian, UAH menegaskan, hadis tersebut berbicara tentang keutamaan, bukan keabsahan puasa.

Dengan kata lain, sahur memperindah dan menyempurnakan puasa, tetapi bukan penentu sah atau tidaknya ibadah tersebut.

Tags:
Ustadz Adi HidayatPuasa RamadhanRamadhan 2026puasasahur

Mutia Dheza Cantika

Reporter

Mutia Dheza Cantika

Editor