JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Masyarakat Tionghoa segera menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa, 17 Februari.
Antusias sudah terlihat, salah satunya dari penjualan pernak-pernik Imlek di kawasan Pecinan Glodok, hingga penjualan jeruk Kimkit.
Salah satu lokasi penjualan jeruk Kimkit yang saat ini sudah laris manis yakni berada di kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat.
Di sini, pedagang menjual tidak hanya jeruk Kimkit, melainkan jeruk jenis lain seperti Chusa, yang sama-sama menjadi buah khas pada saat Perayaan Imlek.
Baca Juga: Warga Dengar Suara Ledakan saat Kebakaran Pabrik Karoseri di Bogor
Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu mengatakan, berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa, jeruk Kimkit dan Chusa merupakan buah-buahan yang tidak luput dari perayaan Imlek. Masyarakat Tionghoa meyakini jeruk Kimkit dan jeruk Chusa membawa keberuntungan.
"Selain rasanya yang lezat dan manfaatnya bagi kesehatan, dua buah itu dipercaya sebagai simbol keberuntungan," kata Kevin melalui pesan singkat, Jumat, 6 Februari 2026.
Mantan ketua umum DPP Dharmapala Nusantara itu menyebut, di mana ada kepercayaan bahwa semakin tinggi dan rimbun pohonnya, maka semakin banyak juga rezeki yang bisa didapatkan pada tahun berikutnya.
"Oleh karena itu, tidak jarang juga warga beretnis Tionghoa yang menghiasi rumahnya dengan itu," kata Kevin.
Baca Juga: Buron 2 Tahun, Begal Sadis Berhasil Ditangkap di Gunung Sindur Bogor
Kevin mengatakan, Imlek tahun ini merupakan Tahun Kuda Api. Kuda dipercaya sebagai simbol ketangguhan dan daya juang yang tinggi. Sementara itu, api menunjukan semangat dan inovasi.
"Demikian, kami juga berharap Imlek 2026 ini akan menjadi permulaan dari tahun yang membawa banyak dampak positif, terutama bagi warga Jakarta," tutur Kevin.
Penjualan Jeruk Kimkit dan Chusa Terus Meningkat
Pedagang jeruk Kimkit dan Chusa di Kembangan, Hesti, 67 tahun mengatakan, penjualan pohon jeruk terus mengalami peningkatan menjelang perayaan Imlek.
"Bahkan ini barang (pohon jeruk) sudah habis semua, tinggal nungguin orangnya ngambil aja," kata Hesti, Jumat, 6 Februari 2026.
Baca Juga: Pembongkaran Tiang Monorel Dikebut, Pramono Minta Pemotongan 5 Tiang per Hari
Hesti mengaku berjualan jeruk Kimkit dan Chusa hanya momentum. Biasanya, ia hanya menjual tanaman hias setiap harinya.
"Kalau jualan jeruk ya cuma momen aja si, memang setiap tahun kalau mau imlek. Biasanya kalau saya jualan tanaman hias," ucap dia.
Hesti sendiri menggunakan lahan seluas 750 meter persegi untuk berjualan jeruk Kimkit dan Chusa yang didatangkan langsung dari Cina. Awalnya, ia menyebut ada sebanyak 5.000 pohon jeruk Kimkit dan Chusa yang dipesan.
Saat pertama kali pohon tiba, ia menutukan langsung dilakukan karantina terhadap ribuan pohon jeruk Kimkit dan Chusa itu.
"Pas baru datang pohonnya di karantina dulu, diperiksa lah, dicek kesehatan pohonnya gimana," ucap dia.
Ia menyampaikan, perawatan terhadap pohon jeruk Kimkit dan Chusa tidak begitu sulit. Menurutnya, tidak ada perawatan khusus kecuali disiram sehari dua kali.
"Pas datang aja dikasih semprot obat dari Karantina. (Disiram) dua kali sehari kalau panas," ujarnya. (pan)